BerandaNTBKOTA MATARAMBangun Relasi Emosional dengan Anak

Bangun Relasi Emosional dengan Anak

Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB menjadi salah satu daerah dengan tingkat fatherless tertinggi di Indonesia. Tercatat, NTB menempati peringkat ke-9 daerah di Indonesia dengan fenomena kehilangan figur ayah. Posisi tersebut menjadi sinyal genting terkait krisis figur ayah di NTB. Relasi emosional perlu dibangun dengan anak.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) NTB, Lalu Makripuddin mengatakan, sekitar 27 persen anak di NTB kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Tingginya angka fatherless di NTB, terjadi lantaran ada miskonsepsi terkait pola pengasuhan dalam keluarga selama ini. Beban asuh anak selalu dilimpahkan kepada ibu. Sementara, ayah hanya bertugas mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan materil.

Menurutnya, ibu maupun ayah memiliki kewajiban yang sama dalam mengasuh anak yakni,memenuhi kebutuhan materil dan moril. Kebutuhan moril yang dimaksud adalah memastikan keamanan keluarga, memberi teladan yang baik, dan menjadi tempat bercerita yang nyaman bagi anak. “Dan ini yang sering belum dilakukan,” ujarnya.

Makripuddin mengingatkan dampak buruk hilangnya figur ayah dalam kehidupan anak. Selain meninggalkan kenangan buruk, absennya sosok ayah dapat memicu sikap kurang percaya dirinya anak. “Itulah dampak-dampak kalau ayah itu tidak hadir,” tuturnya.

Pihaknya terus menggencarkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai upaya untuk meningkatkan peran ayah dalam membentuk karakter anak. Salah satu gerakan turunannya adalah Gerakan Ayah Mengantar Sekolah (GAMAS).

Makripuddin menuturkan, dengan adanya gerakan ini, relasi emosional antara ayah dan anak dapat terjalin erat.

“Kita harapkan dengan mengantar anak sekolah, ada curhat dari si anak. Ketika ayah mengambil rapor, ada dialog, ada curhat si anak kepada ayah. Sehingga kebiasaan curhat, kebiasaan dialog ini terus dilakukan, demikian juga dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.

Ia berharap, para ayah dapat memberikan waktu serta perhatian lebih kepada anaknya. Baik sebagai figur yang tangguh mencari nafkah dan sosok yang teladan yang patut dicontoh.

“Ya, harapan kita tentu ayah hadir dalam perkembangan, dalam pola asuh, dalam pertumbuhan anak-anak mereka,” pungkasnya. (sib)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO