INSIDEN kekerasan yang menimpa seorang sopir taksi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dinilai dapat mempengaruhi pariwisata daerah. Pemerintah Provinsi NTB menilai, kejadian tersebut berpotensi menodai citra pariwisata NTB yang saat ini tengah gencar dipromosikan sebagai destinasi aman dan ramah bagi pelancong.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB, Ahmad Nur Aulia, menegaskan kenyamanan wisatawan tidak melulu soal keindahan destinasi, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan transportasi di lapangan.
“Ya tentunya kami sangat menyayangkan ada kejadian seperti ini,” ujarnya, Kamis, 16 Juli 2026.
Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang aman dan nyaman. Salah satunya yaitu memastikan seluruh moda transportasi beroperasi secara tertib dan mampu memberikan rasa aman kepada para pengunjung yang datang ke NTB.
“Orang datang berwisata tentu ingin mendapatkan pengalaman yang baik, nyaman, dan berkesan. Karena itu, layanan transportasi sebagai bagian dari ekosistem pariwisata harus mampu memberikan pelayanan yang profesional,” katanya.
Adapun atas insiden ini, ia berharap seluruh pegiat wisata di NTB bisa mempererat koordinasi untuk menciptakan keamanan berwisata. Ia mengaku akan memperkuat konsolidari semua pihak memiliki pemahaman yang sama terkait regulasi, sehingga potensi gesekan di lapangan bisa ditekan.
Saat ini, mantan Kepala DPMPD Dukcapil itu mengungkapkan pihaknya telah berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan NTB untuk menyelesaikan solusi gesekan antar pegiat transportasi di NTB itu. Salah satu fokus utamanya adalah memperjelas pembagian peran dan wilayah operasional antara angkutan konvensional, taksi, hingga transportasi daring (online).
“Ini menjadi atensi kami. Jangan sampai persoalan seperti ini mengganggu citra destinasi pariwisata NTB yang selama ini terus kita bangun,” pungkasnya. (era)

