Mataram (Suara NTB) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Al-Azhar (Unizar). Kali ini datang dari Yandika Yuda Bagas Alam, mahasiswa Semester II Fakultas Kedokteran (Unizar) yang berhasil meraih Juara 1 Lomba Baca Puisi pada Seleksi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) 2026 Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Atas capaian tersebut, mahasiswa asal Selat, Kecamatan Narmada, itu berhak mewakili Provinsi NTB pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2026. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tidak hanya bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bagi Fakultas Kedokteran serta Universitas Islam Al-Azhar.
Yandika mengaku sangat bersyukur atas pencapaian yang diraihnya. “Perasaan saya tentu sangat senang dan bersyukur bisa meraih Juara 1 dalam Lomba Baca Puisi di Peksimida 2026. Hal yang paling membanggakan bagi saya adalah kepercayaan yang diberikan untuk mewakili NTB di tingkat nasional nanti. Ini menjadi tanggung jawab sekaligus motivasi besar bagi saya untuk memberikan yang terbaik,” ungkapnya.
Bagi Yandika, kemenangan tersebut bukan sekadar prestasi individu, tetapi juga amanah untuk membawa nama baik Universitas Islam Al-Azhar dan Provinsi NTB di tingkat nasional.
Sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran, Yandika mengakui bahwa membagi waktu antara kegiatan akademik dan persiapan lomba bukanlah perkara mudah. Terlebih, persiapan Peksimida berlangsung bersamaan dengan masa persiapan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) yang dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Namun demikian, tantangan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk meningkatkan kedisiplinan dalam mengatur waktu.
“Memang tidak bisa dipungkiri bahwa membagi waktu di bangku kedokteran itu cukup menantang. Namun saya pribadi memang senang menjalani rutinitas yang produktif. Dengan memiliki kegiatan di luar akademik, saya justru lebih terpacu untuk mengatur waktu dengan disiplin,” tuturnya.
Bawakan Karya Penyair WS Rendra di Peksimida NTB 2026
Menurutnya, setiap tanggung jawab akan terasa lebih ringan apabila dijalani dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan.
“Keluh kesah itu hal yang wajar, tetapi yang terpenting adalah segera mengingat kembali motivasi awal kita. Jika dilakukan dengan ikhlas, semua proses akan terasa lebih ringan,” katanya.
Dalam kompetisi Peksimida 2026, Yandika membawakan dua karya penyair legendaris Indonesia, WS Rendra, yang dikenal memiliki karakter puisi kuat dan sarat makna sosial.
Puisi wajib yang dibacakannya berjudul Gerilya, sebuah karya yang mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang gugur ketika berusaha memakamkan ibunya di tengah situasi peperangan.
Sementara itu, pada kategori puisi pilihan, ia membawakan Sagu Ambon, yang mengangkat tema konflik sosial dan kemanusiaan.
Yandika mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kedekatan dengan karya-karya WS Rendra karena sebelumnya lebih banyak berkecimpung sebagai penulis puisi.
“Latar belakang saya memang lebih banyak sebagai penulis puisi. Karena itu saya sudah cukup akrab dengan diksi dan karakter karya-karya WS Rendra, sehingga lebih mudah melakukan pendalaman karakter saat membacakan puisi,” jelasnya.
Ia juga mengaku keberhasilannya tidak lepas dari bimbingan pelatihnya, Baiq Santi Rengganis, SP., MP., yang membimbingnya memahami makna setiap bait sehingga pesan puisi dapat tersampaikan secara utuh kepada audiens maupun dewan juri.
Menatap kompetisi tingkat nasional, Yandika menyadari bahwa tantangan akan semakin besar. Oleh karena itu, ia telah menyiapkan berbagai strategi untuk meningkatkan kualitas penampilannya.
Menurutnya, latihan tidak hanya difokuskan pada teknik membaca puisi, tetapi juga penguatan olah vokal, ekspresi, pendalaman karakter, serta kesiapan mental saat tampil di atas panggung.
“Untuk tingkat nasional nanti tentu persiapannya akan jauh lebih intensif, baik dari sisi teknik olah vokal maupun kesiapan mental. Saya akan terus mematangkan penjiwaan puisi agar tampil lebih maksimal. Target saya tentu memberikan yang terbaik bagi universitas dan daerah, serta berharap bisa meraih hasil yang memuaskan,” ujarnya optimistis.
Tidak Takut Mencoba Berbagai Kesempatan
Yandika menyampaikan pesan inspiratif kepada seluruh mahasiswa agar tidak takut mencoba berbagai kesempatan di luar aktivitas akademik.
Menurutnya, pengalaman organisasi maupun kegiatan seni justru menjadi sarana pembentukan karakter dan kemampuan manajemen waktu yang sangat berguna di masa depan.
“Jangan ragu untuk mengambil kesempatan yang ada di depan mata. Banyak yang khawatir kegiatan di luar akademik akan mengganggu studi, padahal jika kita memiliki komitmen dan rasa tanggung jawab yang tinggi, semuanya bisa diseimbangkan. Justru pengalaman di luar kelas akan membentuk karakter kita menjadi pribadi yang lebih dewasa, tangguh, dan mampu mengelola waktu dengan baik,” pungkasnya.
Prestasi yang diraih Yandika Yuda Bagas Alam kembali membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Islam Al-Azhar tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu berprestasi di bidang seni dan budaya. Keberhasilannya diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi, berani berkarya, dan membawa nama baik Unizar hingga ke tingkat nasional.
Saat ini juga sedang dibuka Gelombang III penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Al-Azhar sampai 25 Agustus 2026. (ron)

