Mataram (Suara NTB) – Produktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi NTB dinilai mengalami penurunan. Ironisnya, kondisi ini terjadi bukan karena minimnya permintaan pasar, melainkan karena persaingan dengan produk luar dan semakin naiknya harga bahan baku produksi karena gejolak global dan instabilitas nasional.
Ketua Perempuan Indonesia Maju (PIM) NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, S.H., mengatakan potret ini terlihat dari sejumlah UMKM binaan yang memasok produk ke berbagai gerai atau outlet. Banyak produk justru kosong karena pelaku usaha tidak lagi mampu berproduksi.
“Permintaannya sebenarnya masih ada, pesanan juga ada. Tetapi mereka tidak bisa memproduksi karena modal sudah habis dan harga bahan baku naik karena situasi global dan nasional. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.
Menurut Baiq Diyah, kondisi ini berpotensi melemahkan perekonomian pelaku UMKM apabila tidak segera mendapat intervensi. Ia menilai pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait perlu kembali aktif melakukan pendampingan, bukan hanya menggelar kegiatan seremonial.
Organisasi yang dipimpinnya ini, menurutnya, rutin berkomunikasi dengan para pelaku usaha untuk mengetahui persoalan yang dihadapi di lapangan.
“Ketika ada produk yang kosong di outlet, kami tanyakan penyebabnya. Jawabannya hampir sama, mereka sudah tidak punya modal untuk memproduksi lagi. Kalau persoalannya hanya modal, kenapa mereka tidak bisa mengakses KUR atau program pembiayaan lainnya?” katanya.
Diyah menilai pendampingan terhadap UMKM belakangan mulai berkurang. Akibatnya, banyak pelaku usaha merasa berjalan sendiri tanpa arahan maupun solusi terhadap persoalan produksi dan pemasaran.
“Jangan hanya hadir saat acara seremonial. Pemerintah harus rutin bertanya apa kebutuhan mereka, apa kendalanya, lalu membantu mencarikan solusi,” tegasnya.
Selain persoalan modal, Diyah juga menyoroti semakin kuatnya persaingan produk luar yang masuk ke pasar oleh-oleh maupun pusat perbelanjaan di NTB. Menurutnya, banyak produk yang dijual dengan identitas Lombok, namun sebenarnya diproduksi di luar daerah.
Ia menyebut produk dari luar memiliki keunggulan dari sisi harga, kemasan, hingga kapasitas produksi sehingga sulit disaingi UMKM lokal.
“Bisa jadi produk luar lebih murah, kemasannya lebih bagus, lebih higienis, sementara UMKM kita masih banyak yang diproduksi secara manual. Akhirnya mereka kalah bersaing,” katanya.
Ia mencontohkan produk makanan ringan seperti keripik maupun berbagai cendera mata yang dipasarkan di toko oleh-oleh. Banyak di antaranya berasal dari luar NTB, tetapi dipasarkan dengan label atau identitas Lombok.
Menurut Diyah, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena dapat mengancam keberlangsungan UMKM lokal jika terus dibiarkan. Ia juga menilai berbagai agenda besar, termasuk MotoGP Mandalika, belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan kapasitas UMKM.
Selama ini, kata dia, banyak pelaku usaha hanya diberi ruang berjualan tanpa dibekali strategi mengenai produk yang benar-benar dibutuhkan pengunjung.
“Pemerintah seharusnya sudah menyiapkan UMKM jauh sebelum event berlangsung. Produk apa yang paling laku, bagaimana kemasannya diperbaiki, bagaimana kualitasnya ditingkatkan. Jangan setiap tahun menjual produk yang sama tetapi ternyata tidak diminati,” katanya.
Diyah mengaku salah satu fokus kegiatan PIM saat ini adalah mendorong pelestarian dan pengembangan Wastra NTB. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga agar produk tekstil khas daerah tidak semakin tergerus oleh kain motif cetak dari luar yang dipasarkan dengan harga jauh lebih murah.
Ia berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat kembali memperkuat pembinaan UMKM, mulai dari akses permodalan, peningkatan kualitas produk, inovasi kemasan, hingga perlindungan terhadap produk lokal di pasar oleh-oleh.
“Kalau UMKM terus dibiarkan berjalan sendiri, lama-lama produktivitasnya akan semakin turun. Padahal permintaan pasar masih ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberpihakan dan pendampingan yang nyata agar produk lokal mampu bersaing dengan produk luar,” pungkas pegiat sekaligus tokoh UMKM NTB ini. (bul)

