Selong (Suara NTB) – Sebuah keputusan berani diambil oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangkit Bersama di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Mereka menolak tawaran ekspor bahan baku mentah ke China dan memilih mengolah sendiri hasil bumi menjadi produk bernilai tambah. Kini, langkah itu membuahkan hasil: produk olahan mereka tembus pasar mancanegara.
Ketua KWT Bangkit Bersama, Hadiatun mengungkapkan bahwa dua produk unggulan kelompoknya, yakni Mete Kesugian dan Keripik Pisang Sugian telah berhasil diekspor ke Malaysia. “Sudah dua kali ekspor ke Malaysia, ke Johor Baru. Sekali kirim 500 pieces,” ujarnya saat ditemui di Sekretariatnya, Sabtu (26/7/2026).
Tak hanya pasar internasional, produk mereka juga telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk NTB, Bali, dan Jakarta. “Kami sudah punya reseller di masing-masing daerah, meski masih bersifat terputus, belum reseller tetap,” tambahnya.
KWT Bangkit Bersama berdiri sejak 2016 dengan 10 orang anggota yang semuanya ibu rumah tangga. Mereka bekerja dari rumah masing-masing, ada yang bertugas membelah mente dan bagian produksi beranggotakan 4 orang.
Hadiatun menceritakan awal mula kelompoknya mengolah kacang mete. “Dulu di sini banyak mente, tapi belum banyak yang mengolah. Kami melihat peluang untuk meningkatkan nilai jual hasil petani,” kenangnya.
Kelompok ini mendapat pelatihan pengolahan kacang mete. “Awalnya kami mulai dengan harapan kecil. Harga produk terlalu tinggi, masyarakat belum mengenal. Tapi pelan-pelan kami perkenalkan lewat media sosial, hingga akhirnya berjalan lancar,” jelasnya.
Untuk bersaing di pasar yang lebih luas, KWT Bangkit Bersama telah melengkapi produknya dengan berbagai izin resmi. “Kami sudah punya PIRT, NIB, sertifikat halal, dan BPOM. Semua produk kami sudah memiliki BPOM sehingga bisa dipasarkan atau diekspor,” tegas Hadiatun.
Saat ini, lebih dari 22 ritel modern di NTB telah menjual produk mereka, termasuk di Senggigi dan Sembalun. Namun, kelompok ini tetap selektif dalam memilih mitra ritel. “Kami menyaring ritel yang sistem pembayarannya sesuai aturan, karena kami mengharapkan pembayaran setiap bulan,” katanya.
Meski pemasaran berjalan lancar, kelompok ini menghadapi tantangan serius terkait harga bahan baku. “Harga bahan baku sekarang sangat tinggi, mencapai Rp25.000 per kilogram, padahal tahun-tahun sebelumnya hanya Rp15.000,” ungkap Hadiatun.
Jika harga terus melonjak hingga Rp30.000, otomatis harga jual produk akan ikut naik. “Kami masih untung, tapi pelan-pelan akan terdampak,” tambahnya.
Keterbatasan Modal dan Alat Produksi
Hadiatun mengakui bahwa keterbatasan modal menjadi hambatan utama. “Tawaran pasar banyak, tapi kami terbatas modal. Kalau permintaan melampaui kemampuan, kami tidak bisa penuhi,” ujarnya.
Selain itu, mereka masih membutuhkan alat mesin produksi berkapasitas besar untuk mengurangi beban kerja manusia. Saat ini, produksi harian mencapai 100 pieces atau sekitar 2-3 kuintal per bulan.
Untuk bahan baku, kelompok ini mengandalkan kebun masyarakat dan lahan kemitraan di Kecamatan Sambelia, serta menjalin kerja sama dengan petani di luar daerah seperti di Bayan Lombok Itara dan Obel–obel. “Di Sambelia kami masih mampu, tapi kami juga membangun mitra di luar kecamatan,” jelasnya.
Hadiatun berharap produk KWT Bangkit Bersama bisa dipasarkan lebih luas lagi. “Harapan kami ke depan, produk kita lebih dikenal, lebih lancar, dan lebih berdampak ke masyarakat. Ini akan mendongkrak ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja,” pungkasnya.
Dengan semangat kemandirian dan keberanian menolak jalan instan, KWT Bangkit Bersama Sugian membuktikan bahwa produk lokal mampu bersaing di kancah internasional. Mereka adalah inspirasi bagi pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi kerakyatan di Lombok Timur.
Dorong Keterlibatan Pemerintah
Suhirman, pendamping KWT Bangkit Bersama, menekankan pentingnya keberpihakan pemerintah terhadap UMKM. “Pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat harus mendorong ritel modern untuk mengakomodir produk UMKM. Jangan hanya pembinaan dan pelatihan, tapi pendampingan marketing juga penting,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa di Lombok Timur terdapat ratusan ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret, namun belum banyak yang mengakomodir produk UMKM. “Harapan kami, pemerintah daerah tegas mendorong ritel modern untuk memasukkan produk UMKM, termasuk KWT Bangkit Bersama yang sudah ekspor ke Malaysia,” katanya.
Suhirman juga mengungkapkan bahwa kelompok ini siap dengan pola konsinyasi, namun meminta sistem pembayaran tidak memberatkan. “Jangan sampai harus nunggu 6 bulan baru dibayar, karena mereka produksi setiap hari dan harus menggaji tenaga kerja,” tegasnya.
Selain KWT Bangkit Bersama, Desa Sugian memiliki dua kelompok wanita lain binaan Wahana Visi. Kelompok wanita nelayan memproduksi kerupuk ikan, abon, sambal, dan bakso ikan dengan kemasan dan branding sendiri.
Kelompok Aska juga memiliki produk unggulan keripik manggrop yang sedang diuji kandungannya, serta kopi mangrove yang diklaim memiliki keistimewaan untuk pria dewasa dan sedang dalam proses uji laboratorium. (rus)

