BerandaNTBLOMBOK TIMURMenyusuri Ekowisata Mangrove Sugian, Rumah bagi 17 Spesies Tanaman Bakau Terlengkap Se-Asia

Menyusuri Ekowisata Mangrove Sugian, Rumah bagi 17 Spesies Tanaman Bakau Terlengkap Se-Asia

Di pesisir timur Pulau Lombok, tepatnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan kekayaan alam luar biasa. Taman Wisata Alam (TWA) Keramat Suci Ekowisata Mangrove Sugian baru saja resmi diluncurkan pada 4 April 2026 oleh Sekretaris Daerah Lombok Timur, Muhammad Juaini Taofik. Di balik rimbunnya pohon bakau yang saling mengait, kawasan ini menjadi rumah bagi 17 spesies tanaman bakau terlengkap di Asia.

PERJALANAN Ekowisata Mangrove Sugian tak lepas dari program Program Kampung Iklim (Proklim) yang digagas sejak 2024. Humas Proklim Lestari Kokok Pedek Sugian, Bagus Aditya Kusuma, saat ditemui Suara NTB, Sabtu (25/7/2026) menjelaskan bahwa program ini telah memperoleh predikat lestari. Sebuah predikat tertinggi di Indonesia yang diberikan Kementerian Kehutanan.


“Tahapannya banyak sekali, dari Proklim utama baru ke lestari. Syaratnya adalah bagaimana membina dusun-dusun lain untuk mau menjadi program juga,” ujar Bagus. Saat ini ada 10 dusun yang dibina, termasuk di luar desa hingga luar kecamatan.


Selain ekowisata mangrove, program unggulan lainnya adalah mangrub (mangrove dan rub) serta kelompok wanita tani yang mengolah produk dari pisang dan mete. “Mete Sugian sudah terbranding luas sampai ke semua pusat oleh-oleh, bahkan sempat ikut pameran di Labuan Bajo, ASEAN Summit, dan Jakarta,” tambahnya.


Potensi mangrove di Sugian disebut sebagai yang terlengkap di Asia dengan 17 spesies. Spesies yang mendominasi adalah Rhizophora sp, termasuk Rhizophora avensia yang bersifat endemik karena telah tumbuh sejak lama di kawasan ini.


Kawasan konservasi ini juga mencakup Gili Lawang dan Gili Sulat—dua pulau kecil di depan Desa Sugian yang menjadi daerah konservasi perairan dengan luas hutan bakau sekitar 1.731 hektare. Total luasan mangrove di daratan mencapai lebih dari 10 hektare, sementara di kawasan Gili mencapai sekitar 600 hektare.


“Banyak peneliti dari dalam dan luar negeri yang mengambil penelitian di sini, bahkan dari Jepang dan Australia,” ungkap Bagus. Burung-burung langka juga dapat ditemukan di kawasan Gili Sulat dan Gili Lawang, menjadikannya lokasi penelitian yang diminati.


Hasil monitoring menggunakan citra satelit oleh tim dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan peningkatan luasan hutan mangrove dari tahun ke tahun sejak 2019.

Tidak Ingin Jadi Kawasan Wisata Komersil

Berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya, Ekowisata Mangrove Sugian mengedepankan pendekatan edukasi dan konservasi.


“Tujuannya pengembangan ekowisata di Sugian ini bukan komersil, tapi lebih ke ekowisata atau edu wisata. Pengunjung bisa menikmati wisata sambil mengenal mangrove,” tegas Bagus.
Kendati potensi komersial sangat menjanjikan, pengelola memilih jalan berkelanjutan. “Kelestarian alam yang kita pertimbangkan. Kelompok wanita tani tidak akan menjual bahan mentahnya, walaupun banyak importir yang datang menawarkan,” jelasnya.


Tujuan akhir dari pengembangan ekowisata ini adalah program penyerapan karbon. “Tujuan terakhir kami sebenarnya ingin ada program penyerapan karbon di sini,” ungkap Bagus.


Dengan pendekatan sustainable tourism, Ekowisata Mangrove Sugian berupaya menjadi model pengelolaan pariwisata lingkungan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Sekretaris Daerah Lombok Timur berharap Desa Sugian dapat berkembang menjadi desa mandiri dengan kesejahteraan yang kokoh, “layaknya akar mangrove yang menopang kehidupan di wilayah pesisir”.


Di balik rimbunnya mangrove, ada filosofi yang diajarkan: “Cinta yang baik adalah melindungi, bukan memiliki”. Sebuah pesan yang menjadi fondasi bagi Ekowisata Mangrove Sugian—menjaga alam, memberdayakan masyarakat, dan mewariskan kekayaan untuk generasi mendatang.


Sekretaris Desa Sugian, Mahfudz Ali Fikri, menambahkan bahwa pemerintah desa mendukung penuh pembangunan yang harmonis antara masyarakat dan desa. “Kami sudah membentuk aturan persentase pembagian hasil dengan pengelola yang ada di sini,” ujarnya.


Untuk menjaga kelestarian, kawasan ini menerapkan berbagai pembatasan. “Kunjungannya dibatasi karena ini daerah konservasi. Contohnya di tracking tidak terlalu banyak yang bisa masuk,” kata Bagus. Pembatasan ini juga bertujuan agar sampah bisa tertangani dengan baik.


Mahfudz menambahkan bahwa atraksi yang dibangun sengaja tidak dibuat “wow” secara komersial. “Bentuk dari pariwisata komersial minim karena sudah ada aturan tersendiri—awik-awik—untuk live musik dan sebagainya, kita batasi,” jelasnya.


Pada akhir pekan, rata-rata pengunjung mencapai 100-200 orang per malam. Tiket masuk termasuk biaya parkir: Rp5.000 untuk roda dua dan Rp10.000 untuk roda empat.


Daya tarik utama Ekowisata Mangrove Sugian adalah pemandangan matahari tenggelam di bawah Gunung Rinjani dari sisi barat kawasan. Ke depan, pengelola berencana mengembangkan wisata underwater di Gili Lawang dan Gili Sulat yang dapat berkesinambungan dengan ekowisata mangrove.


“Kami dari pemerintah desa melihat bagaimana perkembangan TWA Keramat Suci Sugian. Masyarakat diuntungkan dan desa mendapatkan keuntungan melalui pendapatan asli desa,” ungkap Mahfudz.


Tahun ini, pemerintah desa juga sedang membangun fasilitas kamar bilas dan kamar kecil untuk menunjang kenyamanan pengunjung. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO