BerandaBUDAYA DAN HIBURANMemahami Tantangan Indonesia di Abad ke-21

Memahami Tantangan Indonesia di Abad ke-21

26 tahun setelah Reformasi, Indonesia masih berkutat dengan persoalan yang sama ketika Orde Baru masih memegang tampuk kekuasaan. Masalah yang dimaksud antara lain, krisis demokrasi hingga gagap memahami perkembangan zaman. Kegagalan itu bukan tanpa sebab. Ada beberapa persoalan yang luput dipahami bangsa ini, sehingga tak mampu keluar dari masalahnya.

Adalah Franz Magnis-Suseno, seorang pemikir Indonesia, yang memaparkan persoalan tersebut dalam buku terbarunya; “Demokrasi, Ateisme, Seksualitas: Catatan tentang Guncangan-guncangan Budaya di Abad ke-21”. Buku ini diterbitkan pertama kali pada 2025 oleh Gramedia Pustaka Utama. Berisi empat bagian, tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan kumpulan artikel, pidato, ceramah, hingga teks kuliah Romo Magnis dengan ragam tema.

Pada bagian satu tentang etika politik, Romo Magnis mendiagnosis demokrasi Indonesia sedang mengalami pembusukan dari dalam. Pembusukan itu disebabkan oleh praktik lama yakni Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di kalangan pejabat negara. Lihat saja kasus terbaru yang menjerat Eks Jampidsus, Febri, dan Bupati Non-aktif Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini.

Dalam bab ini, Romo Magnis melihat korupsi tidak saja sebagai praktik disruptif belaka, tapi kejahatan yang mengancam masa depan bangsa. Karena itu, untuk lepas dari jerat rasuah tersebut, pendidikan tidak boleh hanya memastikan generasi bangsa tidak melakukan korupsi lantaran takut dipenjara. Melainkan, korupsi tidak dilakukan karena korupsi itu pada dasarnya adalah kejahatan nyata.  

Bagian ketiga, Magnis melangkah ke persoalan yang lebih pelik dan serius; filsafat dan keimanan.

Melalui tulisan dalam bab ini, kita diajak untuk menguji argumentasi yang dibangun oleh mereka (dalam buku ini disebut Albert Einstein dan Stephen Hawking) yang meragukan keberadaan Tuhan secara lebih kritis. Dimulai dari pertanyaan kenapa manusia percaya kepada Tuhan, Magnis mengajak pembaca menyelami pemikiran filsuf semacam Immanuel Kant, Thomas Aquinas, hingga Emmanuel Levinas.

Dari pemikiran pemikir raksasa itu, kita dapat memahami bahwa kepercayaan manusia pada Tuhan tidak muncul tanpa sebab. Keyakinan itu muncul karena manusia sedari awal menyadari, kehendak untuk berbuat baik dan tidak berlaku jahat, merupakan produk nurani dalam terang cahaya Ilahi. Di sini, Magnis tidak saja menentang kepercayaan para ilmuwan dengan dalil teologis, tapi juga dengan argumentasi rasional.

Bagian keempat dan terakhir, Magnis memaparkan sejumlah tantangan zaman yang dihadapi Indonesia. Salah duanya adalah feminisme dan ragam seksualitas. Feminisme dengan semangat pembebasannya, menantang agama tidak lagi memperkuat stigma perempuan sebagai manusia kelas dua dengan dalih hukum Tuhan.

Menyikapi hal itu, Magnis mengajak agama untuk bersikap bijak. Alih-alih menolak, agama justru diajak berefleksi. Bukan berarti agama didorong mengikuti “isme” itu, tapi untuk lebih terbuka dengan tanda zaman tersebut.

Sementara manusia dengan ragam seksualitas agar diperlakukan selayaknya manusia. Magnis sendiri setuju, bahwa pernikahan sesama jenis tidak mempunyai dasar etis, dan karenanya harus ditolak. Namun, tidak berarti, mempersekusi kelompok LGBT dibenarkan. Menurutnya, perlakuan diskriminatif kepada kelompok LGBT adalah pembangkangan terhadap HAM.

Alhasil, buku berisi tanggapan Magnis atas kondisi bangsa dan tantangan zaman ini tidak hanya bagus, tapi penting dibaca generasi saat ini. Urgensinya bukan hanya karena keragaman tema yang diangkat, tapi kemampuan Magnis dalam menawarkan solusi dan sikap atas tiap-tiap masalah yang disinggungnya. (Sibawaeh)

Judul buku: Demokrasi, Ateisme, Seksualitas; Catatan tentang Guncangan-guncangan Budaya di Abad ke-21

Nama penulis: Franz Magnis-Suseno

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 234

Tahun terbit: 2025

(Suara NTB/sib)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO