BerandaNTBLOMBOK BARATKekeringan di Lobar, Warga Terpaksa Beli Air hingga Sewa MCK

Kekeringan di Lobar, Warga Terpaksa Beli Air hingga Sewa MCK

Giri Menang (Suara NTB) – Kekeringan yang melanda 49 titik di wilayah Lombok Barat (Lobar), mengakibatkan warga mengalami krisis air bersih. Kondisi ini memaksa warga bertahan dengan berbagai cara, mulai dari meminta air sumur bor untuk minum hingga menumpang untuk kebutuhan Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di rumah tetangga yang masih memiliki sumber air.


Seperti yang dialami warga Dusun Grebekan, Desa Jembatan Kembar, Kecamatan Lembar, Lobar. Salah seorang warga setempat, Sopiani, mengaku desanya sudah hampir dua bulan dilanda kekeringan setiap musim kemarau. Kondisi itu membuatnya kebingungan karena hampir tak ada lagi sumber air bersih yang bisa dimanfaatkan.


“Makanya saya gak tahu mau ngomong apa, soalnya air ini tidak ada sama sekali. Kalau mau minum pergi minta air bor di orang yang punya,” tuturnya, Selasa (4/8/2026).


Menurutnya, warga yang memiliki kemampuan ekonomi terpaksa membeli air seharga Rp8 ribu per galon untuk memenuhi kebutuhan minum sehari-hari. “Beli air galon harga Rp8 ribu. Bagi yang punya uang tapi,” katanya.


Tak hanya untuk minum, Sopiani juga harus menumpang mandi dan mencuci pakaian di rumah warga yang memiliki sumur bor. Karena merasa tidak enak terlalu sering mengambil air, ia biasanya memberikan uang sekitar Rp5 ribu sebagai pengganti.


“Pergi numpang nyuci ke tempat orang yang ada airnya. Bayar kami sekitar Rp5 ribu kalau keseringan ngambil, gak enak,” ujarnya.


Ia berharap pemerintah membangun sumur bor di desanya agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap musim kemarau. Sebab, bantuan air bersih yang disalurkan menggunakan mobil tangki dinilai belum mencukupi kebutuhan warga.“Kalau bisa dibuatkan sumur bor ini,” pintanya.


Sementara itu, Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Lombok Barat, Toni Hidayat, mengatakan kekeringan mulai melanda wilayah tersebut sejak 23 Juni 2026. Awalnya hanya terjadi di tujuh desa, tetapi kini telah meluas menjadi 11 desa. “Sejak dilanda sebulan lebih, sekitar 17 ribu jiwa atau 5.793 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Kekeringan sudah terjadi di lima kecamatan, 11 Desa, dan 49 Dusun,” katanya, Selasa (4/8/2026).


Hingga Selasa (4/8), BPBD telah menyalurkan sekitar 506 ribu liter air bersih ke wilayah terdampak. Setiap hari, lima unit mobil tangki diterjunkan untuk menyuplai kebutuhan air warga. “Penyaluran air bersih terhitung sampai tanggal 4 Agustus ini mencapai 506 ribu liter. Per hari sampai lima unit kendaraan,” jelasnya.


Toni memprediksi dampak kekeringan akan terus meluas seiring menurunnya debit air di sejumlah wilayah. Karena itu, kebutuhan air bersih masyarakat diperkirakan akan semakin meningkat dalam beberapa pekan ke depan.


“Sekarang debit air di masing-masing desa mulai berkurang, dan masyarakat sangat membutuhkan air bersih,” ungkapnya.


Di sisi lain, penyaluran air bersih masih terkendala biaya operasional. Anggaran BPBD Lombok Barat dinilai terbatas sehingga distribusi air harus dibantu sejumlah pihak, seperti Bank NTB Syariah, PMI Lombok Barat, Damkarmat Lombok Barat, PTAM Giri Menang, BPPK, dan BWS.


“Anggaran kami memang terbatas, nanti di perubahan kami akan coba usulkan. Terkait operasional juga, kami meminta kendaraan ini menggunakan bio solar, supaya jangan menggunakan Pertamina Dex,” tandasnya. (her)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO