Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dewan Pendidikan Kabupaten Sumbawa (DPKS) menemukan kondisi sekolah sangat memprihatinkan saat turun lapangan. Salah satunya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kanar, Kecamatan Labuhan Badas.
Sekolah yang berada tidak jauh dari pusat Kota Sumbawa Besar tersebut,mengalami kerusakan berat pada berbagai fasilitas mulai dari pagar,bangunan sekolah yang rusak hingga ruang kelas yang tidak memadai.
“Paling menyita perhatian adalah satu ruang kelas yang sama sekali tidak memiliki meja dan kursi. Siswa kelas VI terpaksa proses belajar mengajarnya duduk di lantai dan lainnya harus berbagi satu kursi,” kata Ketua DPKS, Jamhur Husain kepada wartawan, Rabu (5/8).
Ia melanjutkan, setiap hari para siswa juga harus berebut ruang kelas. Ketika satu rombongan belajar mengikuti pelajaran olahraga di luar ruangan, kelas yang ditinggalkan langsung digunakan rombongan belajar lainnya.
Ia menilai kondisi SDN Kanar membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran, tetapi juga harus didukung sarana dan prasarana yang layak.
“Kami sangat prihatin melihat kondisi SDN Kanar. Tidak semestinya masih ada siswa yang belajar di lantai dan ruang kelas yang harus dipakai bergantian setiap hari,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah melalui instansi teknis dapat segera memprioritaskan rehabilitasi bangunan sekolah. Termasuk penambahan ruang kelas serta pengadaan meja dan kursi,sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih optimal.
“Kami berharap apa yang menjadi temuan bisa menjadi atensi pemerintah. Sehingga kedepan tidak ada lagi siswa yang kesulitan untuk mendapatkan ilmu,” harapnya.
Kepala SDN Kanar, Abdul Latief mengakui kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama. Berbagai usulan perbaikan sudah berulang kali diajukan, namun hingga kini belum terealisasi.
“Terpaksa guru dan siswa beradaptasi dengan kondisi yang ada,agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun sebenarnya kami selalu waswas,” ujarnya.
Ia menyebutkan jumlah siswa 305 yang terbagi dalam 12 rombongan belajar (rombel). Sementara, ruang kelas yang tersedia hanya 10 ruang. Kondisi ruang kelas itupun sebagian besar berada dalam kondisi tidak layak.
Menurut Abdul Latief, idealnya sekolah hanya membuka 10 rombel, namun kondisi sosial masyarakat,sehingga pihak sekolah tidak tega menolak calon peserta didik. Apalagi banyak siswa beragama Hindu jika tidak diterima di SDN Kanar harus bersekolah di tempat lain yang menyediakan pelajaran agama Hindu.
“Jadi, mereka harus mencari pembelajaran agama ke Aula Suka Duka di Kota Sumbawa dan itu membutuhkan biaya. Karena alasan itu, kami tetap menerima mereka,” jelasnya.
Ia menyebutkan, komposisi siswa di SDN Kanar cukup beragam. Dari 305 siswa, sekitar 150 orang beragama Islam, sekitar 140 orang beragama Hindu. Sedangkan, sisanya beragama Kristen. Sementara untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran agama Hindu, sekolah merekrut dua guru honorer yang berdomisili di sekitar sekolah.
“Sementara untuk siswa beragama Kristen, pembelajaran agama dilakukan di luar sekolah karena SDN Kanar belum memiliki guru agama Kristen. Kondisi pagar sekolah juga sangat memprihatinkan,” tambahnya. (ils)

