Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Kelautan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa menyebutkan luas lahan potensial untuk pengembangan tambak garam rakyat mencapai 15.000 hektar. Luas lahan yang telah tergarap sekitar 270 hektar yang tersebar di beberapa kecamatan.
“Luas lahan 15.000 ini akan kita usulkan menjadi Kawasan Industri Perikanan Terpadu (KIPT) di Teluk Santong,sehingga produksi kita bisa terus meningkat dan meningkatkan kesejahteraan petani garam,” kata Kadislutkan Kabupaten Sumbawa, Rahmat Hidayat kepada Suara NTB, Rabu (5/6).
Ia melanjutkan, dari jumlah lahan yang sudah tergarap tersebut, rata-rata produksi tahunannya mencapai 3.135.00 ton. Tentu jika KIPT tersebut terwujud maka produksi garam rakyat berpotensi akan terus bertambah.
“Produksi kita masih sangat terbatas, karena lahan yang kita miliki belum terlalu luas. Kami juga akan terus berupaya agar investor bisa melirik potensi garam Sumbawa,” jelasnya.
Pihaknya terus berupaya untuk mendorong kelompok masyarakat untuk segera memanfaatkan lahan tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan mencari investor yang akan mengelola potensi tersebut untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Dayat merincikan, berdasarkan data yang dihimpun beberapa lokasi tambak garam yang sudah tergarap yakni di Labuhan Bajo, Kecamatan Utan seluas 12 hektare. Desa Labuhan Kuris, Kecamatan Lape seluas 20 hektare, Kecamatan Tarano di Labuhan Bontong 63 hektare.
“Di Kecamatan Plampang ada seluas 80 hektare yang dikelola oleh CV Sira Kristal Nusantara dengan jumlah pelaku usaha mencapai 145 orang,” sebutnya.
Disinggung terkait harga garam rakyat, Dayat mengaku harganya yang bisa menembus Rp5.000 untuk karung kecil. Harga itu sangat tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya di kisaran Rp1.000-Rp3.0000 dengan nilai produksi hanya sekitar Rp100-Rp300.
“Kalau untuk harga saat ini sangat bagus dibandingkan beberapa tahun lalu. Makanya kami akan terus mendorong para petani untuk terus memaksimalkan produksi yang ada saat ini,” tukasnya. (ils)

