BerandaNTBKOTA MATARAMAntrean Panjang dan Pasokan Terbatas, Harga Pertalite Eceran Melonjak

Antrean Panjang dan Pasokan Terbatas, Harga Pertalite Eceran Melonjak

Mataram (Suara NTB) – Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Mataram dan berbagai wilayah di Pulau Lombok dalam dua pekan terakhir memicu keresahan masyarakat. Selain membuat pengguna kendaraan harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite, kondisi tersebut juga berdampak pada melonjaknya harga Pertalite di tingkat pengecer.

Terbatasnya pasokan Pertalite membuat masyarakat kesulitan memperoleh BBM bersubsidi yang paling banyak digunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Akibatnya, harga Pertalite eceran yang sebelumnya berkisar Rp12.000 per liter kini naik menjadi Rp13.000 hingga Rp14.000 per liter.

Salah seorang sopir angkutan umum, Dian, mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam mengantre di SPBU agar tetap bisa mendapatkan Pertalite.

“Sudah sekitar dua minggu seperti ini. Lumayan lama antre supaya bisa dapat Pertalite,” ujarnya saat ditemui di salah satu SPBU di Kota Mataram, Rabu (5/8).

Menurut Dian, antrean panjang tersebut mengganggu aktivitas operasionalnya sebagai sopir angkutan umum. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja justru habis di SPBU. Sementara itu, membeli Pertalite di tingkat pengecer bukan menjadi pilihan karena harganya jauh lebih mahal.

“Kalau beli eceran setiap hari, pengeluaran jadi semakin besar,” katanya.

Ia menduga panjangnya antrean dipicu oleh kenaikan harga Pertamax yang membuat sebagian pengguna kendaraan beralih menggunakan Pertalite.

Keluhan serupa disampaikan Rina, pengemudi ojek daring (online). Ia mengaku telah menunggu sekitar 40 menit di SPBU Mayura di Jalan Selaparang untuk mendapatkan Pertalite.

Menurutnya, antrean panjang hampir terjadi di seluruh SPBU di Kota Mataram. Bahkan, ia sempat berkeliling mencari SPBU yang antreannya lebih pendek, namun kondisinya tidak jauh berbeda.

“Saya dari SPBU Pertamina Jempong, lalu ke Pagutan, keliling cari yang agak sepi, tapi ternyata sama saja,” katanya.

Rina juga mengaku keberatan dengan harga Pertalite di tingkat pengecer yang kini rata-rata mencapai Rp13.000 per liter, bahkan di beberapa tempat dijual hingga Rp14.000 per liter. Sebagai pengemudi ojek daring dengan mobilitas tinggi, ia menilai harga tersebut cukup membebani.

“Kalau sedang mendesak mungkin sekali-sekali beli eceran. Tapi kalau harus isi banyak, tentu sangat mahal,” ujarnya.

Sementara itu, seorang pedagang Pertalite eceran di Jalan Catur Warga, Awi, mengatakan kenaikan harga jual disebabkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pasokan BBM. Ia mengaku harus berulang kali mendatangi sejumlah SPBU dan ikut mengantre agar stok dagangannya tetap tersedia.

“Kami juga ikut antre dan bolak-balik ke SPBU supaya bisa dapat Pertalite,” katanya.

Menurut Awi, sebagian besar pedagang eceran di Kota Mataram saat ini menjual Pertalite sekitar Rp13.000 per liter. Adapun informasi mengenai adanya pedagang yang menjual hingga Rp14.000 per liter belum ia temui.

“Kalau di sekitar sini, setahu saya belum ada yang menjual sampai Rp14.000 per liter,” ujarnya.

Ia menilai antrean panjang yang terjadi bukan semata-mata karena kelangkaan Pertalite, melainkan dipengaruhi meningkatnya permintaan setelah kenaikan harga Pertamax serta terbatasnya distribusi BBM ke SPBU.

Sebelumnya, antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Pulau Lombok menjadi pemandangan yang kerap terlihat dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah Provinsi NTB menjelaskan distribusi Pertalite mengalami keterlambatan karena sejumlah armada mobil tangki milik Pertamina sedang menjalani perawatan (maintenance), sehingga pasokan ke SPBU belum dapat berjalan secara normal. (pan)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO