Mataram (Suara NTB) – Pasar kerja NTB menunjukkan pergerakan positif pada Mei 2026. Jumlah penduduk yang bekerja bertambah, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun tipis menjadi 2,98 persen. Namun, terdapat tantangan lain. Jumlah pekerja yang masuk sektor formal justru mengalami penurunan, sementara proporsi pekerja setengah menganggur meningkat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Wahyudin, menyampaikan kondisi ketenagakerjaan berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026. BPS mencatat jumlah angkatan kerja NTB pada Mei 2026 mencapai 3,24 juta orang. Jumlah tersebut bertambah sekitar 5,56 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,14 juta orang tercatat bekerja. Angka ini meningkat sekitar 5,65 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi lapangan usaha dengan daya serap tenaga kerja terbesar di NTB.
Pada Mei 2026, sektor tersebut menyerap sekitar 1,07 juta pekerja atau 33,95 persen dari total penduduk yang bekerja. Besarnya serapan tenaga kerja di sektor pertanian menunjukkan struktur ketenagakerjaan NTB masih sangat bergantung pada sektor primer. Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) justru turun 0,20 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Artinya, meskipun jumlah angkatan kerja dan penduduk yang bekerja mengalami peningkatan, proporsi penduduk usia kerja yang masuk dalam pasar kerja sedikit menurun.
Pekerja Formal Menyusut
Tantangan lain terlihat dari status pekerjaan. Pada Mei 2026, hanya 918,44 ribu orang atau 29,20 persen penduduk bekerja yang berada dalam kegiatan formal. Proporsi tersebut turun 0,31 poin persentase dibandingkan Februari 2026.
Data BPS menunjukkan sebagian besar pekerja NTB masih menggantungkan penghidupan pada sektor informal. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena pekerjaan formal umumnya menawarkan kepastian pendapatan dan perlindungan kerja yang lebih baik.
Persoalan pasar kerja NTB tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya pekerjaan. Kualitas dan kecukupan jam kerja juga menjadi perhatian. BPS mencatat persentase setengah pengangguran pada Mei 2026 meningkat 1,99 poin persentase dibandingkan Februari 2026.
Sebaliknya, persentase pekerja paruh waktu mengalami penurunan cukup besar, yakni 6,09 poin persentase. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perubahan pola jam kerja di kalangan pekerja. Sebagian pekerja yang sudah bekerja masih belum memperoleh jam kerja yang optimal sehingga masuk dalam kategori setengah pengangguran.
TPT Turun Tipis
Meski menghadapi sejumlah tantangan, indikator pengangguran terbuka menunjukkan perbaikan. TPT NTB pada Mei 2026 tercatat 2,98 persen, turun tipis 0,01 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Artinya, proporsi angkatan kerja yang tidak terserap dalam pekerjaan mengalami penurunan, meskipun sangat tipis.
Dengan jumlah angkatan kerja mencapai 3,24 juta orang dan penduduk bekerja 3,14 juta orang, pasar kerja NTB relatif mampu menyerap tambahan angkatan kerja. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan kesempatan kerja tersebut tidak hanya menurunkan angka pengangguran, tetapi juga meningkatkan kualitas pekerjaan, jam kerja, produktivitas, dan porsi pekerjaan formal. (bul)

