BerandaNTBKOTA MATARAMPemkot Mataram Imbau Warga Hindari Lomba dan Karnaval yang Langgar Norma

Pemkot Mataram Imbau Warga Hindari Lomba dan Karnaval yang Langgar Norma

- Advertisement -

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mengingatkan masyarakat agar tidak menggelar perlombaan maupun karnaval dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang mengabaikan norma, etika, moral, dan kesopanan.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul maraknya berbagai kegiatan hiburan yang biasanya digelar masyarakat untuk memeriahkan momentum kemerdekaan. Pemkot Mataram meminta seluruh panitia maupun masyarakat yang terlibat memastikan kegiatan yang digelar tetap memberikan dampak positif, terutama bagi anak-anak dan generasi muda.

Asisten I Setda Kota Mataram, H. Lalu Martawang, menegaskan bahwa semangat memperingati kemerdekaan tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakat. Menurutnya, kreativitas dalam membuat perlombaan maupun karnaval tetap harus memiliki batas agar tidak menimbulkan keresahan atau kontroversi.

“Jangan ada event-event yang menunjukkan sesuatu yang berada pada posisi menormalisasi yang keluar dari norma-norma kita,” ujarnya, Jumat (14/8).

Martawang mengatakan, kegiatan perayaan HUT RI idealnya menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, nasionalisme, patriotisme, dan kecintaan terhadap bangsa. Karena itu, setiap kegiatan yang digelar di lingkungan masyarakat diharapkan dapat memberikan contoh yang baik kepada generasi muda.

Ia mencontohkan sejumlah bentuk kegiatan yang dinilai berpotensi menimbulkan kontroversi. Salah satunya gerak jalan dengan peserta laki-laki yang mengenakan atribut atau berpenampilan menyerupai perempuan, maupun sebaliknya.

Selain itu, terdapat perlombaan olahraga yang menggunakan atribut perempuan, seperti daster, bagi peserta laki-laki. Menurutnya, meskipun kegiatan tersebut dikemas sebagai hiburan, masyarakat perlu mempertimbangkan dampak dan pesan yang disampaikan kepada anak-anak yang menyaksikannya.

Martawang mengingatkan, sesuatu yang awalnya hanya dianggap sebagai hiburan dapat berpotensi dipersepsikan berbeda apabila dilakukan berulang-ulang dan kemudian dianggap sebagai hal yang lumrah.

Karena itu, ia mengajak masyarakat memilih bentuk perlombaan yang lebih edukatif, kreatif, dan tetap menghibur tanpa mengabaikan norma yang berlaku.

“Ayo kita yang normal-normal saja. Yang bisa memberikan edukasi kepada anak-anak kita. Ketika mereka melihat itu, mereka menjadi teredukasi, patriotisme dan rasa cinta dia kepada negara ini menjadi tertanam dan terlestarikan,” tegasnya.

Menurut Martawang, perayaan HUT RI seharusnya menjadi momentum untuk mengenalkan kembali nilai perjuangan para pahlawan kepada generasi muda. Kegiatan di tingkat lingkungan maupun kelurahan dapat dikemas dengan berbagai perlombaan yang membangun kerja sama, sportivitas, kreativitas, dan kepedulian sosial.

Ia berharap masyarakat tidak menjadikan kemeriahan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan perayaan kemerdekaan. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan seluruh rangkaian kegiatan tetap mencerminkan nilai-nilai positif dan budaya masyarakat setempat.

Martawang juga menyinggung adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai larangan laki-laki menyerupai perempuan dalam berpakaian maupun berpenampilan. Hal tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian dalam penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.

Karena itu, ia mengajak masyarakat tetap memeriahkan HUT ke-81 RI dengan penuh kegembiraan. Namun, kemeriahan tersebut diharapkan tetap berada dalam koridor norma, etika, kesopanan, serta nilai-nilai kebangsaan yang dapat menjadi teladan bagi generasi penerus. (pan)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO