Giri Menang (Suara NTB) – Jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Lombok Barat pada tahun 2024 mencapai 7.689 orang. Data ini sebelum era pemerintahan saat ini, di bawah Wakil Bupati Hj. Nurul Adha (UNA). Dari jumlah ATS ini, Pemkab melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat (Dikbud Lobar) telah berhasil menangani 1.350 anak.
Kepala Dikbud Lobar, H. Lalu Najamudin menyampaikan, berdasarkan data yang dimiliki oleh Dikbud, jumlah ATS pada tahun 2024 tercatat sebanyak 7.689 anak. Dari jumlah tersebut, telah berhasil diturunkan secara signifikan hingga 1.350 anak. Dan tersisa saat ini menjadi 6.339 anak.
“Dari 7.689 ATS ini mampu kita kurangi (tangani) 1.350 anak menjadi 6.339 anak,” kata Najamudin, Sabtu (15/8/2026).

Ia menerangkan, data tersebut telah ditindaklanjuti oleh pihaknya dengan turun melakukan verifikasi dan validasi (verval) di lapangan dan melakukan intervensi untuk mengembalikan anak-anak tersebut kembali melanjutkan pendidikan.
Langkah tersebut juga dilakukan agar setiap data dapat dipastikan kondisi aktualnya sekaligus menjadi dasar penyusunan intervensi yang tepat bagi setiap anak.
“Data tersebut tidak hanya sebagai arsip statistik. Tapi kami tindaklanjuti bersama pihak terkait dengan proses verifikasi dan validasi di lapangan. Tujuannya agar kita mengetahui kondisi riil setiap anak, apakah sudah kembali bersekolah, pindah satuan pendidikan, atau membutuhkan pendampingan khusus. Berdasar informasi itu, kami pun melakukan intervensi agar anak tersebut kembali ke sekolah” ujarnya.
Diakui, dalam penanganan ATS ini banyak tantangan yang dihadapinya. Tetapi komitmen kuat pihaknya dalam menekan angka ATS juga diwujudkan melalui langkah nyata di lapangan. Pihaknya turun ke pelosok-pelosok hingga Gili-gili di Sekotong, seperti Gili Gede dan Gili Asahan menyasar anak-anak tidak sekolah.
Pihaknya menemukan anak yang tamat SMP tapi tidak melanjutkan ke SMA.
Ada juga anak-anak putus sekolah di wilayah Kuripan. Anak-anak yang sebelumnya tercatat sebagai ATS ini pun telah diterima untuk melanjutkan pendidikan di SMP. Salah satunya di SMPN 1 Kuripan dan mengikuti pembelajaran sebagai siswa kelas IX. “Sudah aktif masuk sekolah,”ujarnya.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan sekolah-sekolah untuk menerima ATS ini. Jika kendalanya faktor tidak mampu, pihaknya akan memberikan bantuan beasiswa. Ia menegaskan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah bersama satuan pendidikan untuk memastikan setiap anak memperoleh kembali haknya atas pendidikan sekaligus mendorong penurunan angka ATS di Lobar.
Pihaknya menargetkan penanganan ATS ini bisa segera dituntaskan. Paling tidak dalam jangka waktu lima tahun kedepan. (her/*)


