Selong (Suara NTB) – Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menegaskan komitmen Polri dalam mendukung program pemerintah mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian serius adalah bawang putih yang hingga kini masih sangat bergantung pada impor.
Hal tersebut disampaikan Kapolri saat menghadiri panen raya bawang putih dan kegiatan percepatan ketahanan pangan di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (19/8/2026).
Kapolri mengatakan, upaya tersebut merupakan bentuk pelaksanaan perintah Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan produksi pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Ini wujud melaksanakan perintah Presiden untuk mewujudkan ketahanan pangan, meningkatkan produksi dan mengurangi impor,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini terdapat delapan komoditas pangan strategis yang telah dinyatakan mencapai swasembada. Capaian tersebut dinilai menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mendorong swasembada komoditas pangan lainnya.
Salah satu yang menjadi tantangan adalah bawang putih. Kapolri menyebut kebutuhan bawang putih nasional mencapai sekitar 600 ribu ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri baru berkisar 39-40 ribu ton. Impor 90-95 persen. Karena itu, Polri ikut mendorong pengembangan budidaya bawang putih secara masif.
“Karena impor sangat tinggi. Ini tantangan untuk mengulang kejayaan bawang putih di era Presiden Soeharto,” katanya.
Kapolri menegaskan Presiden Prabowo juga telah memberikan perintah agar Indonesia kembali memperkuat produksi bawang putih dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Dalam program tersebut, Polri mengembangkan lahan bawang putih di berbagai wilayah. Secara keseluruhan terdapat potensi lahan sekitar 2.593 hektare yang tersebar di 17 Polda.
Kapolri juga menyampaikan apresiasi kepada Satgas Pangan serta seluruh pihak yang terlibat dalam program tersebut. Ia berharap dukungan berupa hibah lahan dan anggaran dapat mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan nasional.
Sementara itu, Kapolda NTB Irjen Pol Kalingga Rendra Raharja menjelaskan, pengembangan bawang putih di Sembalun merupakan hasil kerja sama Polri dengan kelompok tani Pusuk Pujata.
Program tersebut mulai dikembangkan pada 2025 dengan luas awal 13 hektare. Dari potensi lahan sekitar 534 hektare, sebanyak 105 hektare telah ditanam pada April 2026, kemudian 250 hektare pada Juni 2026 dan 120 hektare pada Agustus 2026.
Dengan pengembangan bertahap tersebut, total pengembangan lahan bawang putih mencapai sekitar 948 hektare dengan potensi produksi 9.480 ton bawang putih basah.
Untuk panen yang berlangsung saat ini, lahan seluas 105 hektare diperkirakan menghasilkan sekitar 1.050 ton bawang putih basah. Setelah melalui proses penjemuran selama kurang lebih tiga minggu, dengan penyusutan sekitar 60 persen, diperkirakan menghasilkan sekitar 420 ton bawang putih kering yang siap disimpan dan didistribusikan.
Selain panen raya, kegiatan di Sembalun juga ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan gudang bawang putih. Gudang tersebut memanfaatkan bekas Puskesmas Sembalun dengan luas bangunan sekitar 1.013 meter persegi.
Pembangunan gudang mendapat dukungan anggaran hibah Pemerintah Provinsi NTB sebesar Rp1,4 miliar. Gudang yang dibangun di atas lahan sekitar tiga are itu ditargetkan mampu menampung hingga 500 ton bawang putih.
Untuk memperkuat keberlanjutan usaha tani, petani juga mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian, di antaranya hand tractor dan pompa air. Terdapat 17 unit pompa air, termasuk tiga unit pompa bertenaga surya.
Kapolda NTB berharap dukungan tersebut dapat memperkuat kapasitas petani, meningkatkan produksi bawang putih secara berkelanjutan serta membangun ekosistem ketahanan pangan di Sembalun.
“Dengan pengembangan ini, Sembalun diharapkan terus berkembang sebagai sentra bawang putih unggulan, menggerakkan ekonomi masyarakat dan memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan,” katanya.
Kasatgas Percepatan Ketahanan Pangan Polri, Irjen Pol Mardiyono, mengatakan sekitar 90-95 persen kebutuhan bawang putih Indonesia saat ini masih dipenuhi melalui impor.
Padahal, Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada 1995 dengan produksi sekitar 152 ribu ton. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk kembali menjadi negara yang mandiri dalam produksi bawang putih.
Ia menjelaskan, Polri hadir sebagai stabilisator sekaligus penghubung antara pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, kelompok tani dan berbagai pihak lainnya dalam mempercepat program swasembada pangan.
Dalam pengembangan bawang putih nasional, NTB menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi terbesar. Selain NTB, pengembangan juga dilakukan di sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan dan Jawa Barat.
Di NTB, pengembangan mencapai 120 hektare dengan potensi produksi sekitar 1.200 ton. Sumatera Selatan mengembangkan sekitar 81 hektare dengan potensi produksi 810 ton, sedangkan Jawa Barat sekitar 34 hektare dengan potensi produksi sekitar 385 ton.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memberikan dukungan dan apresiasi terhadap keterlibatan Polri dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan, khususnya bawang putih.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menyatakan optimistis target swasembada dapat diwujudkan. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan kebutuhan benih untuk pengembangan hingga sekitar 5.000 hektare, termasuk melalui pengadaan benih dari China dan India.
Selain benih, pemerintah juga mempersiapkan alat dan mesin pertanian untuk mendukung perluasan areal tanam.
Pemerintah menargetkan pengembangan bawang putih terus diperluas hingga Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan secara bertahap lepas dari ketergantungan impor.
Selain kegiatan pertanian, rangkaian kegiatan di Sembalun juga diisi bakti sosial sebagai bentuk kepedulian dan kehadiran Polri di tengah masyarakat, termasuk pelayanan pemeriksaan kesehatan.
Melalui berbagai dukungan tersebut, Sembalun diharapkan menjadi salah satu pusat produksi bawang putih nasional sekaligus menjadi bagian penting dari upaya Indonesia mengembalikan kejayaan komoditas bawang putih dan mewujudkan kedaulatan pangan. (rus)


