BerandaNTBDari Tumpukan Sampah Menuju Berkah: Cerita Sukses Dahlan Mengubah Sisa Makanan Jadi...

Dari Tumpukan Sampah Menuju Berkah: Cerita Sukses Dahlan Mengubah Sisa Makanan Jadi Pakan Ikan  

- Advertisement -

Sumbawa Besar (suarantb.com) – Aroma busuk yang menyengat dari sisa makanan kerap dianggap sebagai akhir dari sebuah perjalanan bahan pangan. Namun dari bau yang sangat dihindari banyak orang tersebut, justru dibaca oleh Dahlan (50) sebagai panggilan takdir. Bagi Dahlan, tumpukan sampah basah itu adalah soal bertahan hidup yang disertai kemauan keras untuk mengolah sisa makanan orang lain menjadi pakan ikan berkualitas tinggi.

Kisah ini tak berawal dari laboratorium canggih atau meja seminar yang megah pada pertengahan tahun 2022. Melainkan saat ia melihat puluhan karyawan perusahaan pulang bekerja dengan membawa bungkus makanan di tangan. Ia pun secara spontan bertanya ke mereka kenapa makanannya dibawah pulang. Para karyawan pun menjawab masih banyak sisa makanan didalam (PT Amman) sembari menunggu waktu untuk dibuang ke land fill yang disiapkan Perusahaan.

*Dahlan saat menunjukkan olahan pakan ikan berbentuk padat sebelum dikeringkan menjadi bubuk dan siap digunakan. (SuaraNTB/ils)*

Berbekal informasi tersebutlah Dahlan terinspirasi untuk mencoba peruntungan baru. Pria yang kini menginjak kepala lima tersebut itu mencoba mencari tahu bagaimana cara untuk bisa mengolah sisa makanan itu. Sehingga bisa dimanfaatkan menjadi pakan ikan untuk budi daya ikan di kolamnya sendiri.

“Hampir 60 persen pendapatan saya dari budi daya ikan hanya untuk membeli pakan. Sehingga saya bertekad untuk mengolah sampah tersebut menjadi pakan. Karena sayang jika sampah itu dibuang tanpa memberikan manfaat apapun,” ucapnya kepada Suara NTB, Minggu (2/8/2026).

Di awal merintis, modal saat itu hanya keinginan kuat saja agar bisa mengolah sampah organik yang dihasilkan Perusahaan. Namun keinginan tersebut tidak berlangsung mulus juga melainkan butuh waktu menunggu sekitar dua tahun untuk bisa mendapatkan persetujuan Perusahaan. Tepat di tahun 2024, ia mencoba berkomunikasi dengan ISS (perusahaan jasa bidang layanan fasilitas dan catering di PT Amman).

“Saat itu saya bertemu dengan Project Manager Operasional (PJO) PT ISS Alves Pereira. Saya kemudian menceritakan keinginan untuk mengolah sampah organic dan pak alves langsung memberikan respon yang baik,” ucapnya.

Saat itu pak Alves langsung berkomunikasi dengan pihak perusaahaan. Ia pun menjadi mediator agar keingian tersebut bisa terwujud. Sembari menunggu pertemuan dengan management Perusahaan. Peralatan yang saat itu seadanya terus dipersiapkan untuk bisa meyakinkan Perusahaan, sehingga mereka bisa memberikan limbah sisa makanan tersebut.

“Perjuangan mendapatkan limbah itu tidak mulus juga karena Perusahaan memberikan standar khusus. Ada serangkaian pengujian yang dilakukan perusahaan sebelum sampah itu diberikan untuk diolah menjadi pakan ikan,” kenangnya.

Di tahap pengujian awal, Ia diberikan sampah sisa makanan sekitar 300-kilogram. Perusahaan ingin melihat kegigihan dan keteguhan dirinya untuk menjadikan limbah sisa makanan menjadi pakan. Sampah yang diterima tersebut kemudian dipilah berdasarkan kandungan yang dimiliki. Sampah mengandung protein nabati dan heawani dipisahkan, begitu juga sampah yang mengandung karbohidrat termasuk tulang yang menjadi kalsium.

“Hasil pemilahan tersebut kemudian saya keringkan menggunakan oven yang dimodifikasi. Karena saat itu saya masih menggunakan cara manual, proses pengeringan membutuhkan waktu 4 sampai 5 jam,” ucapnya.

Dari 300-kilogram sampah yang ia terima awalnya, tidak semuanya bisa menjadi tepung, sebagai proses awal pembuatan pakan ada juga yang terbuang. Apalagi saat itu pengerjaannya masih manual sehingga material yang masih memiliki kadar air tinggi tidak bisa diolah dan terbuang begitu saja.

“Dari 300-kilogram bukan menjadi bahan semua melainkan hanya puluhan kilogram saja. Karena pada saat itu peralatan kami sangat terbatas sehingga tingkat pengolahannya juga belum maksimal,” jelasnya.

Karena ketekunan dan hasil yang pengolahan yang baik, akhirnya ia bisa dipercaya perusahaan untuk mengolah sampah sisa makanan para karyawan. Pengiriman sampah tersebut juga dilakukan secara bertahap tidak langsung banyak karena kapastitas mesin pengolahan yang ia miliki saat itu sangat terbatas.

“Saya modal nekat saja pada awalnya, karena peluangnya ada. Di awal merintis memang cukup kesulitan karena peralatan seadanya dan hanya berteduh dibawah terpal sebagai lokasi pemilahan, tetapi saya pantang mundur,” ucapnya.

Seiring berjalannya waktu dan tingkat kepercayaan yang cukup tinggi, akhirnya semua sarana penunjang terus dilengkapi. Dulunya masih dikerjakan secara manual sekarang sudah mulai menggunakan teknologi. Bahkan pengolahan sampah organic yang sedang berjalan saat ini (2026, red) sudah ada sekitar 3-ton hingga 5-ton yang diberikan perusahaan per hari untuk dikelola.

“Kalau saat ini kami sudah mampu menampung dan mengelolah sampah hingga 3 ton per hari karena sarana dan peralatan sudah kami siapkan. Meski angka tersebut masih cukup jauh dari target perusahaan,” tambahnya.

Berkat keuletan dan kegigihannya kini pakan yang dihasilkan tersebut tidak hanya digunakan sendiri. Melainkan diberikan ke beberapa pelaku usaha lain yang menjadi binaan dari perusahaan. Sekarang ini sampah ini bukan limbah lagi tetapi menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat yang menjadi binaanya.

“Sekarang bukan limbah lagi, ini sudah menjadi bahan pakan ikan dengan kandungan protein tinggi dan menjadi sumber pendapatan bagi orang-orang yang berada di lingkungan tempat tinggalnya,” terangnya.

Bahkan hasil uji laboratium yang dilakukan belum lama ini kandungan protein dari pakan limbah sisa makanan tersebut mencapai 38,5 persen. Sementara untuk tepung ikan yang diproduksi bisa mencapai angka 60 persen. Sehingga ikan yang dihasilkan dari budi daya tersebut masuk kategori sehat.

“Pakan dari limbah yang saya hasilkan ini sudah memenuhi standar hasil uji laboratorium, bahkan tidak kala dengan produk pakan pabrikan yang saat ini beredar di pasaran,” ucapnya.  

Berbekal limbah tersebut juga selain menjaga lingkungan, Ia juga bisa memperkerjakan sekitar 15 orang karyawan. Jika dihitung secara keseluruhan ada 20 orang yang menggantungkan hidup dari limbah sampah tersebut. Pekerja itupun berasal dari warga yang berada di sekitar tempat tinggalnya dengan produksi pakan setiap hari.

“Sekarang pakan yang saya hasilkan sudah dikenal dan banyak juga orang yang sudah pesan sampai ke pulau Lombok. Kadang ada pembeli yang langsung datang ambil meski produksinya sangat terbatas,” terangnya.

Ia pun sangat bersyukur ikan hasil di budi daya menggunakan pakan yang diproduksi dari olahan “sampah” para karyawan juga diterima dengan baik oleh Perusahaan. Bahkan per hari ia bisa memasukkan ikan segar jenis nila dan lele ke Perusahaan dengan berat sekitar 15-ton dengan kandungan protein yang sudah terjamin.

“Orang Perusahaan bilang ini konsepnya “from table to table. Artinya dari limbah sisa makanan yang mereka produksi kembali menjadi ikan untuk di konsumsi Kembali,” tambahnya.

Pemberdayaan masyarakat juga terus dilakukan Dahlan, salah satunya dengan membuka lahan di desa Aik Kangkung denga luas 50 are untuk dijadikan tambak ikan. Bahkan beberapa minggu lalu sudah mulai penebaran ikan sekitar 50.000 bibit. Sehingga ekonomi masyarakat tetap berjalan dan ligkungan bisa terjaga.

“Sekarang ini masyarakat Ai kangkung tidak lagi menggantungkan hidup dari jagung dan padi tetapi dari budi daya ikan. Padi hanya mereka tanam untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja,” timpalnya.

Ia secara pribadi sangat berterima ke Perusahaan yang sudah sangat membantu dalam membuka peluang usaha dan mampu melakukan pemberdayaan kepada Masyarakat. Karena selama ini belum ada orang yang mau mengolah limbah makanan ini menjadi pakan. Kalau untuk limbah plastic dan jenis lainnya sudah banyak yang melakukannya.

“Kami berharap agar perusaahan bisa terus memberikan dukungan dan maju Bersama sampai akhir. Kami juga berharap pemerintah bisa mengambil peran minimal produk yang kami hasilkan bisa menjadi pakan ikan untuk program pemerintah,” harapnya.

Ia juga berharap kepada pemerintah untuk bisa melihat pakan ini yang diproduksi dari limbah sisa makanan sebagai komiditas unggulan daerah. Sehingga kebutuhan pakan ikan tidak lagi didatangkan dari luar daerah dan itu pasti akan memangkas biaya produksi nantinya.

“Kami berharap pemerintah bisa terus mengembangkan usaha produksi pakan ini. Karena jujur saja untuk saat ini karena keterbatasan sarana produksi, kami belum mampu untuk menyasar pasar yang lebih luas,” tukasnya.

Apresiasi dan Kolaborasi Pemerintah Sumbawa Barat

Langkah PT Amman dalam pemberdayaan masyarkat khususnya dalam mengolah sampah sisa makanan kini mendapat apresiasi positif dari pemerintah daerah. Apalagi produksi sampah sisa makanan masih cukup tinggi di wilayah tersebut dan sangat sedikit yang mau mengambil peran dalam mengelolah sampah dengan bau yang sangat menyengat itu.

“Kami memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas inovasi tersebut. Kami menilai konsistensi PT Amman dalam mengedepankan prinsip ekonomi sirkular sebagai bentuk dukungan nyata terhadap target pengurangan sampah di daerah,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa Barat, Aku Nur Rahmadin, kepada Suara NTB, kemarin.

Madin melanjutkan,inovasi tersebut mencakup pengurangan limbah industri ini turut memperkuat upaya pemerintah dalam mewujudkan Sumbawa Barat yang bersih dan berkelanjutan. Komitmen tersebut juga selaras dengan Misi ke-7 Bupati dan Wakil Bupati dalam pengelolaan lingkungan hidup. Apalagi khusus limbah sisa makanan masih sangat sedikit yang mau mengambil peran.

“Data kita menunjukan timbulan sampah harian mencapai 64,13 ton per hari, dari jumlah tersebut yang baru terkelola sekitar 7,79-ton atau sekitar 12,15 persen per hari. Sampah yang belum terkelola mencapai 56,34-ton atau 87,85 persen per hari,” ucapnya.

Melalui kolaborasi ini lanjut Madin, sampah tidak lagi dipandang sebagai residu akhir, melainkan sebagai sumber daya yang terus berputar. Transformasi limbah makanan menjadi pakan ikan hingga kembali menjadi pangan bergizi bagi karyawan. Menjadi bukti bahwa keberlanjutan operasional tambang dapat berjalan beriringan dengan kemandirian ekonomi bagi masyarakat di kabupaten Sumbawa Barat.

“Inovasi ini diharapkan bisa menjadi peluang usaha yang cukup menggiurkan jika diseriusi dengan baik disamping bentuk ikthiar bersama dalam menekan jumlah sampah yang tidak terkelola di KSB,” ujarnya.

Ia pun berharap agar perusahan bisa melibatkan lebih banyak Masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah yang tidak terkelola. Jika kolaborasi dengan masyarakat desa secara masif untuk mengubah sampah, maka sisa makanan menjadi sumber daya yang bermanfaat dan bernilai rupiah.  

“Program ini memanfaatkan limbah sampah sebagai pakan ikan yang tidak hanya meminimalisir biaya untuk mengelola sampah, namun juga menghasilkan produk-produk bernilai ekonomis seperti tepung ikan, minyak ikandan pupuk organic termasuk pakan ikan yang sehat dan aman,” harapnya.

Kedepan pemerintah juga akan terus mendorong agar muncul “Dahlan-Dahlan” lainnya. Sehingga sampah yang dikelola tidak hanya dari Perusahaan melainkan sampah yang diproduksi Masyarakat. Sebab permasalahan sampah khususnya limbah sisa makanan masih menjadi pekerjaan rumah yang masih cukup berat untuk diseleiakan.

“Kami berharap kedepan sampah yang dihasilkan masyarakat bisa dikelola agar bisa memiliki nilai ekonomis. Karena sampah sisa makanan tidak hanya bisa dikelola menjadi pupuk organic melainkan bisa menjadi pakan ikan,” ujarnya.

*Timbulan Sampah Organik Milik Perusahaan Tembus 14 Ton per Hari*

Berdasarkan data yang diterima Suara NTB timbulan sampah organic di PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang dihasilkan per hari rata-rata mencapai 14 ton. Sementara untuk sampah inorganik mencapai 181 ton per hari dan data tersebut merupakan hasil pendataan bulan Januari-Maret tahun 2026 yang dihasilkan oleh sekitar 5.076 karyawan.

Sebagai salah satu perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia, Amman sengaja menginisiasi lahirnya program pengolahan sampah menjadi pakan ikan di sejumlah desa lingkar tambang. Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen dari Perusahaan dalam menjaga dan mengelola lingkungan.

“Kita targetkan, pakan ikan yang dihasilkan di Sekongkang Atas saja, tetapi mampu memproduksi hingga 8-ton pakan ikan per bulan. Kami berharap program ini dapat mengatasi permasalahan sampah organik di lingkungan sekitar, memenuhi permintaan pasar pakan ternak di NTB, dan menjadi usaha andalan masyarakat desa,” kata Priyo Pramono, vice president social impact PT Amman.

Seraya menambahkan, program pengolahan limbah menjadi pakan ikan ini merupakan bukti komitmen PT Amman dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan mewujudkan ekonomi hijau di desa-desa lingkar tambang. Apalagi persoalan sampah ini masih menjadi tantangan di masa yang akan datang terutama sampah plastic dan organic.

“Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi contoh bagi pihak lain untuk turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya

*Lingkaran Sirkular yang Mandiri*

Inovasi ini menciptakan sebuah ekosistem tertutup (closed-loop) yang sangat efisien. Hasil panen ikan dari kolam masyarakat tersebut dibeli kembali oleh mitra penyedia jasa boga (catering) Amman untuk diolah menjadi hidangan bagi karyawan. Sisa makanan dari meja makan karyawan diolah oleh tangan masyarakat lokal menjadi pakan, menghasilkan protein ikan, dan kembali meja makan karyawan sebagai pangan bergizi.

“Di Amman, kami memandang pengelolaan sampah sebagai bagian integral dari tanggung jawab lingkungan. Inovasi teknologi waste-to-value yang dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi sirkular berbasis masyarakat adalah langkah nyata menuju operasional tambang berkelanjutan,” kata Kartika Octaviana vice president corporate communication PT Amman.

*Masalah Food Waste Harus Jadi Atensi Bersama*

Aktivis dan pemerhati lingkungan Hermawan Some mengapresiasi munculnya orang kreatif yang mampu mengolah sampah menjadi pakan ikan. Sebab, masalah food waste (limbah sisa makanan) ini telah menjadi perhatian, karena jumlahnya yang cukup besar dan Indonesia. Termasuk dampak lingkungan yang ditimbulkan dari tumpukan yang berbau khas tersebut.

“Kami sangat menyambut baik munculnya gerakan mengolah sampah apalagi menjadi pakan ikan. Karena jujur saja masih banyak Masyarakat yang enggan mengelolah sampah yang mereka produksi sendiri,” jelasnya.  

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat produksi sampah makanan mencapai 40,79 persen dari total 20,25 juta ton timbulan sampah nasional sepanjang tahun 2025. Penyebab food waste ini tidak lepas dari kebiasan buruk masyarakat yang tidak menghabiskan makanan dan dampak dari food waste ini sangat besar bagi lingkungan.

“Sisa makanan yang menumpuk dalam jumlah besar akan menghasilkan gas metana yang dapat membentuk gas rumah kaca yang menjadi salah satu pemicu pemanasan global. Sampah sisa makanan juga dapat menghasilkan limbah air lindi yang bisa mencemari tanah dan air,” ucapnya.

Sampah makanan lanjutnya merupakan seluruh bahan organik atau material layak makan yang hilang atau terbuang dalam rangkaian rantai pasokan pangan. Limbah itu bisa muncul mulai dari tahap produksi agrikultur, proses penyimpanan dan distribusi hasil panen ke konsumen.

“Limbah pangan yang menumpuk dan membusuk di tempat pembuangan sampah menghasilkan gas metana yang lebih berbahaya dari karbon dioksida. Limbah makanan turut menyumbang 8-10 persen emisi karbon,” terangnya.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk menekan masalah food waste dengan mengompos daripada membuang makanan tersebut menjadi sampah. Bisa juga dilakukan dengan menerapkan konsep 6R (refuse,reuse, reduce, recycle root, rethinking) untuk mencegah food waste. Khususnya pada reduce dengan mengurangkan sisa makanan.

“Limbah pangan memicu masalah lingkungan. Saat kita membuang makanan artinya kita juga menyia-nyiakan energi dan air yang digunakan untuk menumbuhkan, memanen, menyimpan, mengemas dan mendistribusikan bahan pangan tersebut,” ujarnya.

Praktik tidak membuang-buang makanan juga bisa berdampak positif pada upaya meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan masyarakat. Dengan ikut mengelola bahan pangan yang dimiliki dan mengurangi timbunan sampah makanan untuk menjaga lingkungan.

“Mari kita bijak memproduksi makanan agar tidak menjadi limbah. Karena dampak limbah makanan ini sangat besar terhadap lingkungan termasuk pencemaran air,” ajaknya. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO