Manggarai (suarantb.com) — Perhatian kecil di tengah situasi darurat menjadi momen haru bagi warga terdampak gempa bumi NTT. Tim Baznas NTB yang sedang membawa logistik untuk kebutuhan dapur umum memilih menyerahkan sebagian bantuan tersebut kepada warga di sebuah perkampungan terpencil yang mengaku belum menerima bantuan sejak gempa.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa (18/8), ketika Tim Baznas NTB yang dipimpin Wakil Ketua Baznas NTB Ustadz Zulkifli baru selesai berbelanja kebutuhan logistik di pasar untuk memenuhi kebutuhan dapur umum lapangan bagi masyarakat terdampak gempa bumi NTT Magnitudo 7,7.
Dalam perjalanan kembali menuju posko dapur umum, kendaraan tim dihentikan sejumlah warga di sebuah perkampungan yang berada agak terpencil dari pusat penanganan bencana.
Warga dengan santun menanyakan bantuan yang dibawa tim. Mereka mengira rombongan tersebut merupakan bagian dari bantuan pemerintah setempat.
Dalam dialog itu, warga menyampaikan bahwa hingga Senin (17/8), mereka belum menerima bantuan dan berharap distribusi bantuan juga dapat menjangkau perkampungan mereka.
Wakil Ketua Baznas NTB menjelaskan bahwa rombongan tersebut merupakan Tim Baznas NTB, warga kemudian menyampaikan kepada warga lainnya bahwa bantuan yang mereka lihat bukan berasal dari pemerintah setempat, melainkan dibawa oleh saudara mereka dari NTB.
Ucapan terima kasih pun disampaikan dengan penuh rasa hormat.
Mendengar langsung bahwa warga di perkampungan tersebut belum mendapatkan bantuan, Tim Baznas NTB kemudian mengambil keputusan untuk menyerahkan sebagian logistik yang baru saja mereka belanjakan di pasar.
Logistik yang semula disiapkan untuk kebutuhan dapur umum itu kemudian diturunkan dan diberikan langsung kepada warga.
“Ini sebenarnya akan kami bawa ke dapur umum dan nantinya juga akan dibagikan kepada masyarakat. Tapi kalau di sini Bapak dan Ibu belum mendapat bantuan, tidak apa-apa kami turunkan dan berikan sekarang. Ini juga memang untuk masyarakat,” kata Ustadz Zulkifli kepada warga.
Keputusan sederhana itu sontak mengubah suasana. Warga yang sebelumnya hanya berharap agar bantuan dapat menjangkau kampung mereka, justru menerima bantuan secara langsung di hadapan mereka.
Rasa haru tidak dapat disembunyikan. Warga menyampaikan terima kasih kepada Tim Baznas NTB yang telah berhenti, mendengar keluhan mereka, dan memilih berbagi dari logistik yang sedang mereka bawa.
“Terima kasih, Bapak. Kami diperhatikan saudara dari NTB,” ujar salah seorang warga.
Bagi Tim Baznas NTB, bantuan tersebut bukan sekadar logistik. Di tengah kondisi bencana, perhatian kepada warga yang belum tersentuh bantuan menjadi bagian penting dari misi kemanusiaan.
Peristiwa itu juga menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, kehadiran dan kepekaan di lapangan menjadi sangat berarti. Bantuan tidak selalu harus menunggu sampai tiba di posko atau melalui jalur distribusi berikutnya. Ketika ditemukan warga yang membutuhkan, bantuan dapat langsung diarahkan kepada mereka.
Dari sebuah perjalanan belanja kebutuhan dapur umum, lahir sebuah peristiwa kemanusiaan yang sederhana namun bermakna: ketika bantuan menemukan mereka yang belum tersentuh, dan kepedulian membuat warga korban bencana merasa tidak sendiri. (r/ham)


