BerandaEKONOMINTB Memasuki Puncak Kemarau, BMKG: Antisipasi Kekeringan dan Krisis Air

NTB Memasuki Puncak Kemarau, BMKG: Antisipasi Kekeringan dan Krisis Air

- Advertisement -

Mataram (Suara NTB) – Provinsi NTB tengah memasuki puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kekeringan dan potensi krisis air bersih, menyusul minimnya hujan di hampir seluruh wilayah NTB.


Berdasarkan informasi iklim dasarian II Agustus 2026, curah hujan di NTB pada periode 11–20 Agustus umumnya sangat rendah, yakni 0–10 milimeter dalam 10 hari.


Hujan tertinggi hanya tercatat di Pos Hujan Senaru, Lombok Utara, dengan curah hujan 6 milimeter selama periode tersebut.


Kondisi semakin diperparah dengan panjangnya periode tanpa hujan. Sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari satu bulan. Bahkan, di Bolo, Kabupaten Bima, dan Swela, Lombok Timur, tidak terjadi hujan selama 94 hari atau lebih dari tiga bulan.


Kondisi tersebut sudah masuk kategori kekeringan ekstrem karena periode tanpa hujan telah melewati 60 hari.


BMKG juga memperkirakan peluang hujan pada 21–31 Agustus 2026 masih sangat kecil. Peluang hujan di seluruh wilayah NTB diperkirakan kurang dari 10 persen.

Kekeringan Meluas

Kondisi kekeringan saat ini sudah terjadi di sejumlah kabupaten/kota dengan tingkat yang berbeda-beda. BMKG menetapkan wilayah yang terdampak dalam tiga level, yakni Waspada, Siaga, dan Awas.


Level Awas antara lain terjadi di sejumlah wilayah Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Bima.


Di Lombok Timur, wilayah yang masuk level Awas meliputi Jerowaru, Labuhan Haji, Suela, Sukamulia dan Wanasaba. Di Lombok Utara terdapat Kecamatan Tanjung.


Sementara di Pulau Sumbawa, level Awas mencakup sejumlah wilayah di Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu dan Bima. Di Kabupaten Bima antara lain Bolo, Donggo dan Soromandi.


Kondisi kemarau tahun ini turut dipengaruhi fenomena El Niño yang berada pada kategori sangat kuat. BMKG memprediksi kondisi El Niño tersebut masih dapat bertahan hingga awal 2027.

BMKG mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi semakin terbatasnya ketersediaan air bersih.


Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan dan permukiman. Warga diingatkan tidak membakar sampah sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.


“Seiring meluasnya wilayah yang masuk Level Siaga hingga Awas akibat hari tanpa hujan yang semakin panjang, masyarakat diharapkan menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih,” demikian imbauan BMKG Stasiun Klimatologi NTB. (bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO