Praya (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Pemkab Loteng) saat ini tengah membangun komunikasi dengan Kementerian Sosial (Kemensos) terkait rencana pembangunan kembali rumah adat di kampung adat Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut yang habis terbakar pada Sabtu (22/8) malam. Sembari itu, Pemkab Loteng juga tengah melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah pasti rumah adat yang terbakar yang akan dibangun ulang.
Harapannya, pembangunan kembali rumah adat itu nantinya bisa benar-benar tepat sasaran. Demikian diungkapkan Bupati Loteng, H. Lalu Pathul Bahri, S.I.P., M.A.P., saat ditemui Suara NTB di posko terpadu penanganan bencana kebakaran kampung adat Sade di halaman kantor Desa Rembitan, Selasa (25/8).
Bupati mengatakan, untuk membangun kembali rumah-rumah adat tersebut butuh anggaran yang tidak sedikit. Mengingat jumlah rumah yang terbakar habis dalam peristiwa kebakaran tersebut cukup banyak. Itu belum termasuk fasilitas umum, seperti gasebon ataupun rumah ibadah berupa masjid. Kemudian ada juga lapak tempat berjualan warga Dusun Sade.
“Rumah adat yang habis terbakar itu semua ada sekitar 75 rumah. Tapi setelah dilakukan verifikasi kembali jadi 69 rumah. Data itu masih akan divalidasi kembali. Sehingga nanti datanya sudah by name by addres,” sebutnya.
Soal komunikasi dengan Kemensos, Pathul mengaku sejauh ini berlangsung positif. Nantinya, Kemensos diharapnya bisa membantu pembiayaan untuk pembangunan ulang rumah adat yang habis terbakar. Tim dari Kemensos sendiri juga sudah turun untuk melihat langsung kondisi kampung adat Sade.
“Kita sih berharap tidak hanya rumah saja yang dibangunkan kembali oleh Kemesos. Pembangunan fasilitas umum lainnya berharap juga bisa bantu,” ujarnya.
Disinggung bentuk dan jenis rumah adat yang akan dibangun, Bupati Loteng mengatakan nanti akan ada pembahasan khusus bersama para tokoh masyarakat Sade. Jadi masyarakat sendiri yang memutuskan akan membangun jenis rumah seperti apa. Pemerintah daerah dalam hal ini hanya membantu menfasilitasi pembiayaan. Termasuk membantu penguatan mitigasi kebencanaannya. Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dimasa yang akan dating.
Harapannya, ketika ada peristiwa serupa terjadi Langkah antisipasinya sudah dilakukan. Dengan begitu kampung adat Sade bisa terus eksis hingga generasi yang akan dating.
“Jadi soal kapan pembangunan ulang akan dimulai hingga bentuk dan jenis rumah yang akan dibangun nanti akan ada Focus Group Discussion (FGD) bersama para tokoh masyarakat Sade. Di situ nanti keputusan diambil bersama,” imbuh Ketua DPD Partai Gerindra NTB ini.
Pathul menambahkan, kasus kebakaran kampung adat Sade mendapat perhatian masyarakat secara luas. Tidak hanya nasional tetapi juga masyarakat dunia. Mengingat status kampung ada Sade sebagai destinasi pariwisata yang sudah begitu dikenal dunia.
Kepala Pelaksana BPBD Loteng H. Ridwan Ma’ruf menambahkan, bagi warga terdampak kebakaran yang membutuhkan bantuan bisa menghubungi aparat dusun atau aparat desa setempat. Untuk kemudian pihaknya akan menyalurkan sesuai kebutuhan warga. Karena bantuan tersebut merupakan amanah orang banyak yang tentunya harus disalurkan dengan tepat. (kir)


