BerandaNTBLOMBOK BARATDipantau Langsung Mendagri, Inflasi di Lombok Barat Stabil

Dipantau Langsung Mendagri, Inflasi di Lombok Barat Stabil

- Advertisement -

Giri Menang (Suara NTB) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Pemkab Lombok Barat secara intens mengawal penanganan Inflasi daerah yang tiap pekan dipantau oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melalui zoom meeting. Inflasi daerah pun berangsur stabil setelah sebelumnya mengalami deflasi hingga -3 persen.

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Hj. Damayanti Widyaningrum, SP., M.Si., mengatakan bahwa TPID Lobar melaksanakan rapat dengan Mendagri melalui zoom meeting membahas langkah pengendalian inflasi, salah satunya pada perayaan Maulid Nabi kali ini. Karena di beberapa daerah tertentu berpotensi terjadi lonjakan harga bahan pokok.

“Termasuk kita di Lombok Barat, karena disini maulid Nabi itu perayaannya besar-besaran sehingga kami disini sebagai Staf Ahli menyarankan kepada tim TPID melaksanakan beberapa hal (langkah),” kata Damayanti, Rabu (26/8/2026).

Beberapa langkah yang dilakukan diantaranya bagiamana caranya ketersediaan bahan pangan strategis itu tetap tersedia di pasaran dan distribusinya lancar.

Salah satu yang dilakukan TPID untuk mendekatkan hasil produksi pangan strategis pada masyarakat, diantaranya tim turun melakukan gerakan Pangan Murah dan Tentakel atau tenten tani keliling. Kegiatan ini dilaksanakan sebelum Maulid Nabi sebanyak 14 kali di semua kecamatan di Lombok Barat. Dampaknya pun cukup positif terhadap Indeks Perkembangan Harga (indikator ekonomi harga pangan) sampai kedua bulan Agustus kisarannya 1,33 persen sampai 1,89 persen.

 “Artinya kita masih dalam rentang aman, tapi kami tidak mau itu naik lagi, karena pengaruhi inflasi,” ujarnya.

Untuk itulah TPID pun berupaya menjaga agar IPH tidak naik. Sebab jika terjadi kenaikan terus maka Inflasi pun akan naik. Saat ini inflasi dalam kondisi aman. “Itulah tugasnya TPID yaitu bagiamana inflasi tetap terjaga, jangan sampai deflasi terlalu dalam dan inflasi terlalu tinggi,” imbuh dia.

Sebab jika deflasi terlalu tinggi, maka produsen dalam hal ini petani akan rugi karena harga bapok anjlok. Sebaliknya, jika inflasi maka harga Bapok naik sehingga menyulitkan membeli kebutuhannya.

Diakuinya sempat terjadi deflasi pada bulan Juli hingga -3 persen. Setelah ditelusuri ternyata penyebabnya diduga akibat Program MBG libur. Tetapi sekarang sudah mulai stabil lagi. Tren positif ini yang terus dijaga agar tidak anjlok lagi, sehingga langkah antisipasipun disiapkan terhadap permintaan komoditas pangan strategis yang meningkat pada musim maulid Nabi ini. Terutama beberapa jenis Bapok yang menyebabkan harga naik, seperti  ayam potong, ayam ras, cabai besar, cabai kecil dan udang basah.

TPID juga melakukan langkah strategis yakni gerakan-gerakan. Salah satunya meluncurkan gerakan menanam cabai “go to school”. Terdapat sekitar ribuan bibit cabai yang akan ditanam di sekolah-sekolah SMP dan SD yang tersebar di empat kecamatan. Masing-masing 5.000 bibit cabai ditanam di SMP dan SD sebanyak 7.000.

 “Uji coba di empat kecamatan dulu, nanti launching nya di SMPN 2 Gerung, yang lain mengikuti secara zoom meeting,” imbuhnya.

Bibit cabai yang ditanam nantinya dirawat oleh para murid. Dimana masing-masing murid menjaga satu polibag mulai dari menanam sampai panen. Panen nantinya dilakukan secara serentak. Pada libur panjang juga telah disarankan agar ada yang bertanggung jawab, mungkin bisa dengan cara anak-anak bergiliran masuk ke sekolah atau penjaga sekolah yang mengawasi.

Gerakan ini sebagai upaya menjaga Inflasi, selain itu membiasakan anak-anak untuk bertani dengan memanfaatkan pekarangan. Terutama dalam menghasilkan pangan strategis yang menjadi kebutuhan sehari-hari dan sering memicu Inflasi. (her)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO