Mataram (Suara NTB) – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Mataram menghadapi persoalan kekurangan personel di tengah meningkatnya beban tugas.
Saat ini, jumlah personel dalam satu peleton sekitar 21 orang, sedangkan kebutuhan ideal mencapai 30 orang yang dibagi dalam tiga regu untuk mendukung sistem siaga selama 24 jam.
Kepala Damkarmat Kota Mataram, H. Rudi Suryawan, mengatakan penambahan personel menjadi kebutuhan mendesak karena tugas Damkarmat kini tidak lagi sebatas menangani kebakaran. Sejak nomenklatur berubah menjadi Damkarmat, cakupan pelayanan diperluas pada kegiatan penyelamatan dan pertolongan dalam berbagai kondisi darurat.
“Jumlah personel kita 21, tetapi sebenarnya idealnya 30 satu peleton. Jadi, tiga regu yang bergiliran untuk siaga 1×24 jam,” ujarnya, Kamis (27/8).
Menurutnya, perubahan cakupan tugas tersebut membuat masyarakat semakin sering meminta bantuan Damkarmat untuk menangani kondisi darurat yang tidak berkaitan langsung dengan kebakaran.
Petugas, misalnya, harus melakukan evakuasi hewan liar yang membahayakan warga, seperti menangkap ular berbisa dan biawak serta melepaskan sarang tawon yang berada di lingkungan permukiman.
Selain itu, Damkarmat juga menangani berbagai penyelamatan darurat ringan, termasuk membantu warga yang mengalami masalah cincin terjepit di jari maupun benda tajam atau logam yang menjerat bagian tubuh.
“Sekarang masyarakat semakin sering meminta bantuan. Jadi, tugas kita bukan hanya pemadaman kebakaran, tetapi juga penyelamatan,” katanya.
Tugas lainnya mencakup penanganan kondisi berbahaya di lingkungan masyarakat, seperti membantu evakuasi pohon tumbang serta memberikan pertolongan dalam berbagai situasi darurat nonbencana.
Dengan cakupan tugas yang semakin luas, kebutuhan personel pun menjadi semakin mendesak. Keterbatasan jumlah anggota juga berdampak pada pengaturan petugas yang harus tetap siaga di markas komando.
Karena itu, Damkarmat telah mengajukan penambahan personel kepada Sekretaris Daerah Kota Mataram. Usulan tersebut juga telah disampaikan langsung kepada Wali Kota Mataram saat melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Damkarmat beberapa waktu lalu.
Selain mengejar jumlah personel yang ideal, Damkarmat juga mengusulkan penambahan anggota nonmuslim. Menurut Rudi, keberadaan personel nonmuslim diperlukan agar pelayanan tetap berjalan optimal ketika anggota lainnya menjalankan ibadah atau merayakan hari besar keagamaan.
“Jangan sampai pada hari-hari keagamaan teman-teman mengorbankan salat atau ibadahnya karena harus standby di Mako,” ujarnya.
Rudi mengungkapkan, jumlah personel nonmuslim di sejumlah peleton saat ini sangat terbatas. Bahkan, salah satu peleton hanya memiliki satu anggota nonmuslim setelah seorang personel memasuki masa pensiun.
Karena itu, pihaknya berharap apabila terdapat penataan atau proses touring personel melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), kebutuhan anggota nonmuslim juga dapat menjadi salah satu pertimbangan.
Kondisi tersebut, kata dia, semakin terasa ketika memasuki momentum Idulfitri, Iduladha, maupun hari besar keagamaan lainnya. Damkarmat tetap harus memastikan ada personel yang berjaga meskipun sebagian anggota menjalankan ibadah dan merayakan hari raya.
“Untuk mem-backup pada saat hari raya Idulfitri, Iduladha atau hari kebesaran, akhirnya sampai Sekdis ikut berjaga,” ungkapnya.
Mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja tersebut menegaskan, Damkarmat harus tetap mampu memberikan pelayanan secara cepat dan optimal di tengah meningkatnya permintaan masyarakat. Karena itu, penambahan personel dinilai penting untuk memastikan kesiapsiagaan selama 24 jam sekaligus menjaga kualitas pelayanan.
Di tengah meningkatnya permintaan layanan penyelamatan, Damkarmat Kota Mataram kini dituntut tidak hanya sigap menangani kebakaran, tetapi juga siap menghadapi beragam situasi darurat lainnya. Kondisi tersebut membuat penguatan jumlah personel menjadi kebutuhan penting untuk menjaga kecepatan dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. (pan)


