Bagi wisatawan, Dusun Adat Sade mungkin hanya terlihat sebagai deretan rumah tradisional dengan lorong-lorong sempit dan aktivitas warga yang masih lekat dengan adat Suku Sasak. Namun bagi pelaku industri pariwisata, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sade jauh lebih dari sekadar destinasi. Sade adalah bagian dari cerita tentang Lombok. Destinasi wisata tradisional, pemikat wisatawan.
SEBANYAK 129 rumah di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, ludes terbakar, pada Sabtu, 22 Agustus 2026 malam. Musibah ini menggemparkan, dan sekitar 320 warga terdampak.
Kampung adat itu telah rata dengan tanah. Api mengamuk, lantaran rumah-rumah adat di sini adalah bangunan tradisional beratap ilalang, dan berdinding pagar. Sangat cepat api melalapnya. Ditambah lagi ketiadaan alat-alat pemadam kebakaran untuk menjaga kampung tradisional ini.
Pascakebakaran, seluruh elemen masyarakat bahu-membahu, menyalurkan bantuan. Memulihkan trauma korban. Lembaga-lembaga pemerintah, swasta, hingga organisasi, bupati, Gubernur NTB, Kementerian Pariwisata, hingga Kementerian Kebudayaan pun turut memberi perhatian atas kampung ini.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana Kamis, 27 Agustus 2026 pun turun langsung meninjau puing-puing desa adat yang terbakar ini.
Lantas seberapa strategis Desa Adat Sade di mata para pelaku industri pariwisata NTB?
Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) NTB, Sellywati, mengatakan Sade memiliki pengaruh cukup besar terhadap industri pariwisata NTB. Kampung adat tersebut telah lama menjadi salah satu destinasi yang diperkenalkan dalam berbagai paket perjalanan wisata di Pulau Lombok, NTB.
“Sade bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga salah satu ikon budaya Lombok yang sudah dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.
Menurutnya, dalam paket wisata bertema Sasak maupun perjalanan menuju kawasan selatan Lombok, Sade hampir selalu menjadi bagian dari rute perjalanan.
“Paket Sasak atau tour ke daerah selatan selalu kami masukkan destinasi Desa Sade,” ujarnya.
Selly mengatakan, kekuatan utama Sade terletak pada budaya Sasak yang masih terasa autentik. Wisatawan, terutama wisatawan mancanegara, tidak hanya datang untuk melihat bentuk rumah tradisional. Mereka ingin merasakan kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur.
“Yang paling menarik bagi wisatawan mancanegara adalah budaya Sasak yang masih autentik, seperti rumah adat, tradisi, tenun, serta interaksi langsung dengan masyarakat. Sade memberikan pengalaman living culture yang sulit ditemukan di tempat lain,” jelasnya.
Pengalaman semacam itu, menurut Selly, menjadi nilai yang sulit digantikan. Wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat, melihat tradisi yang masih hidup dan mengenal budaya Sasak dari sumbernya secara langsung.
Selain Sade, terdapat Desa Adat Ende yang juga menawarkan kekayaan budaya Sasak. Namun, bagi industri perjalanan wisata, Sade sudah memiliki posisi kuat sebagai salah satu ikon destinasi budaya Lombok. Karena itu, Selly menilai pemulihan Sade pascakebakaran menjadi hal yang mendesak.
Pandangan senada disampaikan Ketua Astindo NTB sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Sahlan M. Saleh.
Ia menyebut Sade merupakan salah satu destinasi budaya penting karena menyimpan tradisi Suku Sasak yang telah berlangsung turun-temurun.
“Sade ini adalah salah satu destinasi. Memang bila kita hitung, budaya di Sade termasuk yang cukup tua dari Suku Sasak,” kata Sahlan.
Menurutnya, Sade memiliki posisi yang relatif besar dalam paket perjalanan wisata di NTB. Sahlan mengatakan pelaku industri pariwisata selama ini selalu mengenalkan tradisi dan budaya Sasak kepada wisatawan. Sade menjadi salah satu destinasi yang dinilai paling lengkap dalam menggambarkan kehidupan budaya masyarakat Sasak.
“Kita selalu mengenalkan tradisi dan budaya Sasak yang unik. Desa Sade adalah destinasi yang lengkap menggambarkan budaya Sasak,” katanya.
Terlebih bagi wisatawan yang mengambil paket perjalanan menuju kawasan Kuta, Lombok Tengah. Sade menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang ditawarkan.
“Selalu bila kunjungan ke kawasan Kuta, semua wisatawan menikmati suasana Sade untuk merasakan pengalaman berwisata mengenal budaya Sasak,” ujar Sahlan.
Bagi Sahlan, perhatian besar terhadap Sade setelah kebakaran merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlangsungan sebuah destinasi wisata, tetapi juga keberadaan salah satu simbol budaya Sasak.
Ia menilai semua pihak harus terus bergandengan tangan agar kehidupan masyarakat Sade kembali pulih. “Wajar semua pihak bahu-membahu untuk mengembalikan Desa Sade hidup kembali,” katanya.
Bagi BPPD NTB, menjaga destinasi budaya seperti Sade merupakan bagian penting dalam mempertahankan identitas pariwisata daerah. “Sade sudah menjadi ikon Suku Sasak,” tegasnya.
Desa Adat Sade memiliki keunikan karena bukan sekadar museum terbuka yang dibuat untuk kepentingan wisata. Kawasan ini merupakan permukiman masyarakat Suku Sasak yang masih dihuni dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Di tengah masuknya listrik, teknologi komunikasi dan modernisasi, masyarakat tetap mempertahankan bentuk rumah, tata ruang, tradisi dan berbagai nilai adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.(bul)


