Selong (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menyiapkan program pemasangan sekitar 8.000 titik lampu penerangan jalan yang ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027 mendatang. Program tersebut diharapkan mampu mengubah wajah Lotim menjadi lebih terang, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat pada malam hari.
Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin mengatakan, aktivitas ekonomi masyarakat saat ini semakin banyak berlangsung pada malam hari. Karena itu, penerangan jalan dinilai menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menunjang mobilitas dan kegiatan ekonomi masyarakat.
“Tahun 2027 kita mulai pasang lampu untuk menerangi jalan. Kita ingin Lombok Timur ke depan terang benderang, tidak gelap seperti sekarang,” ujar H. Iron, sapaan akrab Bupati, saat ditanya di tengah acara peringatan Hari Jadi ke-131 Lotim di Lapangan tugu Selong, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, penerangan tidak hanya akan difokuskan pada kawasan perkotaan, tetapi juga diarahkan ke sejumlah jalur menuju objek wisata. Dengan kondisi jalan yang terang, masyarakat maupun wisatawan diharapkan dapat lebih leluasa melakukan aktivitas pada malam hari.
Ia meyakini penerangan jalan akan memberikan dampak terhadap perkembangan ekonomi daerah. Semakin panjang waktu masyarakat beraktivitas, semakin besar pula peluang usaha untuk tumbuh.
Selain penerangan, Pemkab Lotim juga memberi perhatian terhadap persoalan kebersihan. Menurut Bupati, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya dengan membangun akses dan fasilitas, tetapi harus dibarengi dengan lingkungan yang bersih.
“Tidak ada wisatawan yang akan datang kalau kotor,” tegasnya.
Salah satu program yang diharapkan dapat membantu penanganan persoalan tersebut adalah Local Service Delivery Project (LSDP) yang mendapat dukungan pendanaan Bank Dunia. Lombok Timur menjadi salah satu daerah penerima program tersebut.
Haerul menyebut Lotim memperoleh dukungan pendanaan sekitar Rp157,8 miliar. Dana tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan publik, termasuk penanganan persoalan persampahan. “Itu hasil bolak-balik ke Jakarta,” katanya.
Di sisi lain, Pemkab Lotim juga berupaya memperbaiki akses jalan menuju sejumlah destinasi wisata. Jalan-jalan yang menjadi jalur penting pariwisata akan coba difokuskan dalam pembangunan.
Ia mencontohkan pembangunan jalan Paokmotong–Kotaraja yang didorong melalui dana pokok-pokok pikiran (pokir) anggota legislatif. Selain itu, dukungan pokir anggota DPR RI disebut mencapai sekitar Rp50 miliar.
Untuk pengembangan sektor pariwisata, pemerintah daerah juga mendorong investor membangun fasilitas akomodasi, terutama hotel di wilayah Lombok Timur bagian selatan.
Menurut Haerul, kawasan utara seperti Sembalun saat ini sudah cukup banyak memiliki fasilitas akomodasi. Karena itu, pengembangan hotel dan investasi pariwisata ke depan akan lebih diarahkan ke wilayah selatan. Langkah tersebut sekaligus diharapkan dapat meningkatkan penerimaan daerah melalui pajak sektor pariwisata.
Ia menegaskan pembangunan infrastruktur dan fasilitas pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan pemerintah daerah. Dibutuhkan investasi dan dukungan berbagai pihak agar pembangunan dapat berjalan lebih cepat.
Sementara itu, pelaku wisata Lombok Timur, Yogi Islanta, menilai program penerangan jalan menjadi kebutuhan mendesak. Ia menggambarkan kondisi Lombok Timur saat ini masih minim penerangan pada sejumlah kawasan. “Lotim saat ini gelap gulita,” kata Yogi.
Selain persoalan penerangan, ia juga menyoroti masalah kebersihan. Sampah masih ditemukan berserakan di berbagai lokasi sehingga dapat mengurangi kenyamanan masyarakat maupun wisatawan.
Menurutnya, pengembangan pariwisata harus dilakukan secara bersamaan. Infrastruktur dan penerangan memang penting, tetapi kebersihan lingkungan juga tidak boleh diabaikan.
Kondisi jalan yang terang, lingkungan yang bersih, serta akses yang baik menuju destinasi wisata dinilai akan menjadi modal penting bagi Lotim untuk meningkatkan daya tarik pariwisatanya. (rus)


