BerandaBIMAHarga Jagung Naik, Hasil Panen Petani Bima Justru Anjlok

Harga Jagung Naik, Hasil Panen Petani Bima Justru Anjlok

- Advertisement -

Bima (Suara NTB) – Harga jagung di Kabupaten Bima tahun ini naik hingga sekitar Rp6.000 per kilogram. Namun, kenaikan harga tersebut berbanding terbalik dengan hasil panen sejumlah petani.  Hasil panen menurun akibat diserang hama wereng.

Salah seorang petani di Kecamatan Palibelo, Uswatun mengatakan hasil panen jagungnya tahun ini hanya sekitar 2,45 ton. Jumlah tersebut turun dari tahun lalu yang mencapai lebih dari 3 ton.

“Tahun lalu 3 ton lebih dan sekarang hanya 2,45 ton,” sebut Uswatun kepada Suara NTB, Rabu (2/9).

Menurut dia, penurunan hasil panen tersebut terjadi akibat serangan hama wereng. Saat hama menyerang, ia sudah lebih dulu menanam sehingga berupaya mempertahankan tanaman dengan melakukan penyemprotan insektisida secara rutin hingga masa panen.

“Iya, gara-gara wereng. Syukurlah masih ada hasilnya karena semprot terus,” ujarnya.

Penurunan hasil panen tersebut terjadi saat harga jagung justru meningkat. Uswatun menyebut harga jagung yang diterimanya tahun lalu berada di kisaran Rp4.600-Rp4.700 per kilogram. Tahun ini, harga yang diterimanya mencapai sekitar Rp5.950 per kilogram.

Meski harga meningkat, kenaikan tersebut belum diikuti peningkatan hasil panen. Produksi yang diperoleh Uswatun justru lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi serupa disampaikan petani lainnya, Hilimudin. Ia mengatakan hasil panen jagungnya tahun lalu sekitar 1,8 ton. Sedangkan, tahun ini merosot atau hanya sekitar 1,2 ton.

Dengan demikian, hasil panen Hilimudin berkurang sekitar 600 kilogram atau sepertiga dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, harga jagung yang diterimanya naik dari sekitar Rp5.900-Rp6.000 per kilogram.

Menurut Hilimudin, penurunan hasil tersebut juga berkaitan dengan serangan hama wereng. Serangan itu membuat petani sempat diimbau menunda penanaman,sehingga waktu tanam menjadi terlambat.

“Dipanen muda karena waktu itu telat tanam,karena serangan hama wereng. Kami diimbau untuk menunda penanaman. Kalau mau diambil tua, kami telat tanam jagungnya,” jelasnya.

Akibat keterlambatan tersebut, Hilimudin memilih memanen jagung dalam kondisi lebih muda agar tidak semakin terlambat. Ia juga mengatakan biaya produksi relatif sama dengan tahun sebelumnya.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi produksi jagung tahun ini, Suara NTB telah berupaya mengonfirmasi Dinas Pertanian Kabupaten Bima, termasuk mengenai perkembangan produksi dan dampak serangan hama wereng. Hingga berita ini ditulis, konfirmasi tersebut belum mendapat tanggapan. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO