Mataram (Suara NTB) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) NTB menggelar sosialisasi Identifikasi dan Pendaftaran Naskah Kuno di Gedung Pelayanan Perpustakaan Provinsi NTB, Kamis (3/9). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk melestarikan naskah kuno daerah yang terancam rusak atau hilang.
Dalam forum tersebut, Dispusip NTB menggandeng berbagai pemangku kepentingan dari Dinas Pariwisata NTB, Dinas Kebudayaan, Museum, akademisi, hingga budayawan. Acara ini menghadirkan sejumlah pakar sebagai pemateri, yaitu Dr. Aswandikari, S., M.Hum. yang membawakan materi Manuskrip NTB, Drs. H. Lalu Agus Fathurrahman yang mengupas isi naskah kuno, Prof. Dr. H. Jamaluddin mengenai media manuskrip, serta perwakilan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang memaparkan sosialisasi, identifikasi, dan pendaftaran naskah kuno.
Kabid Pelayanan Dispusip NTB, Niniek Rahayu, mengungkapkan, banyak naskah kuno milik masyarakat yang belum terdaftar secara resmi sebagai warisan cagar budaya. Kondisi ini membahayakan keberadaan naskah baik dari segi pelestarian fisik maupun keamanannya. Pihaknya mendorong kesadaran warga agar bersedia membagikan informasi dan mendaftarkan koleksi mereka.
“Sosialisasi ini tujuannya bahwa kami mengharapkan masyarakat ini nanti semakin terbuka. Karena sampai saat ini masih banyak juga masyarakat yang belum mau untuk kami daftarkan naskah kunonya,” ujarnya, Kamis (3/9).
Niniek menjelaskan, naskah kuno milik warga yang telah terdata akan didaftarkan ke Perpusnas. Sebagai bukti legalitas, pemilik akan menerima sertifikat kepemilikan yang kelak dapat dijadikan syarat pengajuan penghargaan naskah kuno.
Sebagai tindak lanjut, Dispusip NTB menyiapkan tahapan perlindungan fisik dan digitalisasi guna mengamankan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
“Pelestarian salah satunya melalui digitalisasi. Ada dengan fisik, seperti dipreservasi, dibersihkan. Kalau ada yang rusak, ditambal, disesuaikan dengan aslinya, ya seperti itu. Digitalisasi tahun depan programnya, tindak lanjut dari ini,” pungkas Niniek.
Langkah ini didukung penuh oleh Prof. Jamaluddin. Ia menegaskan bahwa pendataan naskah kuno di NTB, dinilai sangat mendesak, karena kondisi geografis daerah yang rawan bencana alam.
“Kalau kita tidak pernah daftarkan, ini akan menghilangkan jejak sejarah,” jelasnya. Menurutnya, alih media ke bentuk digital akan memperkuat keamanan naskah dari risiko kerusakan maupun kehilangan.
Sementara itu, Budayawan NTB, Lalu Agus Fathurrahman menekankan bahwa sosialisasi ini penting untuk menghidupkan kembali tradisi membaca naskah kuno di tengah gempuran era modern.
Ia berharap Dispusip NTB menyediakan wadah berkelanjutan, seperti ruang atau pojok khusus literasi tradisi di perpustakaan, agar generasi muda dapat mempelajari naskah kuno kapan saja.
“Ada pojok-pojok khusus yang disiapkan di perpustakaan ini sehingga orang bisa kapan saja datang ke sini belajar tentang literasi tradisi,” pungkasnya. (sib)



