Selong (Suara NTB) – Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih menjadi persoalan kesehatan hewan di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat. Hingga saat ini, 140 ekor sapi di 13 kecamatan di Lotim dilaporkan terjangkit penyakit tersebut.
Demikian penjelasan Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur, Drh. Hultatang. “Yang kami terima laporannya, 140 ekor (terjangkit PMK, red),” terang Tatang kepada Suara NTB, Selasa (8/9/2026).
Menurut Tatang, vaksinasi menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga kekebalan ternak terhadap PMK. Vaksinasi disarankan dilakukan secara rutin setiap enam bulan karena tingkat kekebalan dapat menurun setelah periode tersebut.
“PMK harus berkelanjutan. Per enam bulan harus divaksin. Kalau tidak divaksin, ada gejala yang muncul karena sistem kekebalan menurun setelah enam bulan,” jelasnya.
Tatang mengatakan, sapi yang telah beberapa kali mendapatkan vaksinasi tetap memiliki kemungkinan terpapar PMK. Namun, tingkat keparahannya cenderung lebih rendah karena tubuh telah memiliki antibodi.
Sebaliknya, sapi yang belum memiliki kekebalan dapat mengalami gejala lebih berat, seperti kelumpuhan, luka pada lidah, hingga kerusakan pada kuku.
“Kalau sudah terbentuk antibodi, maka hanya seperti flu. Kalau tidak, gejalanya bisa berat, seperti kelumpuhan, luka pada lidah dan kerusakan kuku,” ujarnya.
Tatang menjelaskan, salah satu faktor yang menyulitkan pengendalian PMK adalah tingginya mobilitas ternak antardaerah. Perdagangan sapi melalui pasar hewan memungkinkan ternak dari berbagai wilayah masuk dan bercampur dalam satu lokasi.
Sapi yang masuk ke Lombok Timur dapat berasal dari sejumlah daerah, seperti Kabupaten Lombok Utara (KLU) dan Lombok Barat (Lobar). Kondisi tersebut membuat status kesehatan maupun riwayat vaksinasi ternak yang diperjualbelikan tidak selalu diketahui secara pasti.
“Pergerakan ternak tidak hanya di satu tempat. Sapi dari KLU, Lobar dan daerah lainnya bisa masuk. Data sapi dari pasar hewan sering menjadi salah satu penyebab karena status penyakitnya tidak diketahui dan sapi berasal dari berbagai daerah,” katanya.
Selain itu, riwayat vaksinasi sapi yang diperjualbelikan juga belum tentu diketahui. Ada kemungkinan sapi yang masuk belum pernah mendapatkan vaksinasi PMK.
Vaksinasi Lindungi Investasi
Tatang mengimbau para peternak tidak menolak vaksinasi yang dilakukan petugas di lapangan. Menurutnya, vaksinasi justru memberikan perlindungan terhadap ternak yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Ia meminta peternak tidak beranggapan bahwa vaksinasi yang dilakukan secara berkala justru merugikan atau tidak diperlukan.
“Masyarakat peternak jangan berpikir, ngapain divaksin sering-sering. Kami sarankan rutin vaksinasi setiap enam bulan. InsyaAllah aman,” katanya.
Terlebih, harga sapi saat ini cukup tinggi sehingga ternak menjadi salah satu bentuk investasi bagi masyarakat. Karena itu, kesehatan ternak perlu dijaga agar nilai ekonominya tetap terlindungi.
“Sapi itu sebagai investasi. Pastikan investasi aman sehingga nilai investasinya lebih besar,” ujarnya.
Stok Vaksin Tersedia
Disnakeswan Lombok Timur saat ini masih memiliki stok vaksin PMK yang cukup. Dari sekitar 55 ribu dosis vaksin yang tersedia, sebanyak 30 ribu dosis telah digunakan. Dengan demikian, masih terdapat sekitar 25 ribu dosis .
Tatang berharap masyarakat dapat menerima petugas yang melakukan vaksinasi di lapangan. Saat ini, vaksinasi dilakukan secara spot-spot atau menyasar lokasi-lokasi tertentu.
“Harapan kami masyarakat jangan menolak petugas karena vaksinasi ini menguntungkan peternak,” tegasnya.
Ia menambahkan, PMK di Lombok Timur saat ini sudah bersifat endemik. Tantangan pengendalian penyakit juga muncul karena setiap tahun terdapat sapi-sapi baru yang lahir dan belum memiliki kekebalan yang memadai.
“Sudah endemik. Tingkat kekebalan sudah bagus. Yang menjadi problem setiap tahun ada sapi lahir. Kalau tidak divaksin, bisa bergejala berat,” jelasnya.
Karena itu, vaksinasi terhadap sapi baru maupun ternak yang masa kekebalannya telah menurun dinilai penting untuk menekan tingkat keparahan PMK.
Tatang menegaskan efektivitas vaksin PMK cukup baik dalam membantu membentuk kekebalan ternak. Kasus yang saat ini ditemukan di Lombok Timur, kata dia, mayoritas berkaitan dengan sapi-sapi baru. (rus)



