Mataram (Suara NTB) – Harga saham masih mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi NTB Bidang Pasar Modal dan IPO NTB, Sandi Maulana di Mataram, Rabu, 9 September 2026 mengatakan, kondisi bisa jadi peluang, terutama bagi investor yang memiliki orientasi investasi jangka panjang dan mampu memilih saham berdasarkan fundamental serta valuasinya.
Menurut Sandi, harga saham membuat sejumlah saham berkualitas dapat diperoleh dengan harga lebih murah. Karena itu, investor tidak seharusnya langsung panik ketika pasar mengalami tekanan.
“Ketika harga saham lagi anjlok, sebenarnya justru kondisi yang bagus untuk masuk bagi yang punya orientasi investasi jangka panjang. Kita bisa mendapatkan saham dengan harga lebih murah,” kata Sandi.
Menurutnya, ketika sebagian investor memilih menjual karena khawatir dengan kondisi pasar, investor jangka panjang justru dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Ia mengaku kerap memanfaatkan kondisi pasar ketika harga saham mengalami penurunan. Bahkan, saham dengan harga di bawah Rp1.000 menjadi salah satu yang diperhatikannya, selama memiliki prospek dan valuasi yang menarik.
“Ketika orang takut, kita justru harus berani mengambil peluang. Apalagi kalau kondisi ekonomi masih cukup baik, sementara harga saham turun. Itu bisa menjadi peluang untuk mendapatkan saham bagus dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.
Sandi menegaskan, istilah “saham bagus” tidak selalu berarti saham yang harganya sedang naik. Investor perlu melihat valuasi, fundamental, dan prospek perusahaan.
Menurutnya, investor perlu membedakan antara penurunan harga akibat sentimen pasar dengan penurunan yang disebabkan memburuknya fundamental perusahaan.
“Bagus itu bukan berarti harganya naik terus, tetapi bagus secara valuasi. Ketika harga pasar turun sementara nilai atau fundamental perusahaan masih baik, itu justru menjadi kesempatan,” katanya.
Sandi menjelaskan, pergerakan harga saham dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi makroekonomi hingga faktor internal perusahaan. Kebijakan pemerintah, kebijakan moneter dan fiskal, stabilitas politik, serta kondisi geopolitik global turut memengaruhi sentimen investor.
Karena itu, ia menilai sulit memastikan secara pasti kapan harga saham akan kembali pulih. Namun, jika kondisi ekonomi, politik, kebijakan fiskal dan moneter tetap mendukung, peluang pasar untuk kembali menguat tetap terbuka.
Ia juga melihat secara historis terdapat kecenderungan penguatan pasar menjelang akhir tahun. Salah satu faktor yang kerap dikaitkan dengan kondisi tersebut adalah window dressing, ketika perusahaan atau manajer investasi berupaya memperbaiki tampilan kinerja portofolio dan laporan keuangan menjelang penutupan tahun.
“Kalau kondisi makro bagus, politik stabil, kebijakan fiskal dan moneter juga baik, tentu peluangnya lebih bagus. Biasanya akhir tahun juga ada kecenderungan pergerakan saham menguat,” ujarnya.
Di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, Sandi mengingatkan investor agar tidak sekadar mengejar saham yang sedang naik. Strategi investasi harus disesuaikan dengan kemampuan, tujuan, dan jangka waktu investasi.
Sebagian masyarakat masih ragu masuk ke pasar modal. Karena itu, edukasi mengenai investasi yang sehat dan berbasis analisis perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan tren atau sentimen sesaat.(bul)



