BerandaPENDIDIKANPenggunaan Bahasa Sasak Generasi Muda Rendah

Penggunaan Bahasa Sasak Generasi Muda Rendah

Mataram (Suara NTB) – Penggunaan Bahasa Sasak di kalangan generasi muda semakin rendah. Kondisi ini perlu menjadi atensi seluruh pihak,agar bahasa daerah tidak kehilangan penutur di masa depan.

Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa NTB, Kasman membenarkan, penggunaan Bahasa Sasak sebagai alat percakapan sehari-hari semakin memprihatinkan. Terutama di wilayah perkotaan seperti Kota Mataram.  Sebagai contoh, Kasman membeberkan pengalamannya sebagai Ketua Komite di salah satu SD di Mataram. Hampir 75 persen orang tua siswa di sekolah merupakan orang Lombok yang bahasa ibu adalah Bahasa Sasak.

“Kadang-kadang satu anaknya dalam satu rumah, tidak ada yang bisa Bahasa Sasak. Tidak usah berbicara semua anaknya, empat atau tiga anaknya. Satu anaknya saja tidak bisa Bahasa Sasak,” ungkapnya kepada Suara NTB, Selasa (15/9).

Kasman mengaku miris dengan realita tersebut. Ia bahkan sempat mengajak guru di sekolah tersebut, untuk memberikan pembelajaran serta pelatihan. Tujuannya agar dapat memberikan pembelajaran ke murid-muridnya.

Menurutnya, alasan utama berkurangnya penggunaan bahasa daerah di kalangan anak muda tidak terlepas dari beberapa faktor. Pertama, adanya kawin silang. Beberapa orang Lombok yang awalnya memakai Bahasa Sasak sebagai bahasa utama, kini lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia setelah menikah dengan orang luar daerah.

Kedua, menyangkut regulasi dalam konteks bahasa adalah peraturan daerah  penggunaan bahasa daerah. Kasman menyebut, Balai Bahasa NTB dan DPRD pernah menginisiasi pembuatan regulasi penggunaan bahasa daerah yang kemudian melahirkan Perda Nomor 5 Tahun 2020 tentang Perlindungan, Pengembangan, dan Pembinaan Bahasa Daerah. Namun, regulasi ini dinilai belum mampu dijadikan acuan pembuatan kurikulum bahasa daerah di tingkat sekolah.

Selain itu, belum semua Kabupaten/Kota di NTB mempunyai regulasi terkait pelestarian bahasa daerah. Dari 10 daerah hanya Kabupaten Lombok Utara, Dompu, dan Kota Mataram yang belum memiliki Perda. Ia berharap seluruh daerah terutama Kota Mataram dapat memberi atensi terhadap penerbitan regulasi untuk menjaga bahasa daerah tidak kehilangan penuturnya.

“Harapan kami ke depan Kota Mataram bisa mengimbangi daerah lain seperti Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah. Lombok Barat sekarang sedang bergeliat nih membuat muatan lokal mereka,” harapnya.

Balai Bahasa NTB juga terus melakukan upaya agar penggunaan bahasa daerah tetap relevan menjadi alat tuturan sehari-hari,terutama di kalangan anak muda. Karena itu, program seperti revitalisasi terus digalakkan,agar Bahasa Sasak terus lestari sebagai bahasa utama.

Ia berharap melalui program Tunas Bahasa Ibu ini, upaya menguatkan posisi bahasa daerah sebagai bahasa utama masyarakat dapat tercapai.(sib)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO