Selong (Suara NTB) – Sebanyak 19.558 jiwa masyarakat di enam desa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), NTB mengalami krisis air bersih akibat kondisi kekeringan. Data tersebut berdasarkan permintaan distribusi air bersih yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur.
Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi, menjawab Suara NTB via telepon, Kamis (17/9/2026) mengatakan, enam desa yang terdampak paling parah ada di Kecamatan Jerowaru. Di Kecamatan Jerowaru, wilayah terdampak meliputi Desa Sekaroh dan Desa Seriwe. Sementara di Kecamatan Suela, terdapat tiga desa, yakni Desa Perigi, Desa Selaparang, dan Desa Puncak Jeringo. Adapun satu desa lainnya adalah Desa Tetebatu Selatan di Kecamatan Sikur.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD bersama sejumlah pihak telah mendistribusikan sekitar 30 tangki air bersih. Distribusi tersebut dilakukan BPBD, MMI, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) NTB.
BPBD juga terus melakukan penyaluran air dari posko wilayah selatan. Sejumlah titik, seperti Pengoros, mendapat distribusi air bersih sedikitnya dua hingga tiga kali dalam sepekan.
Selain Desa Sekaroh dan Seriwe, penanganan di Kecamatan Jerowaru juga menyasar Dusun Telone dan Dusun Pengoros Dua, termasuk wilayah Desa Jerowaru.
Penanganan juga dilakukan di luar Kecamatan Jerowaru, khususnya Kecamatan Montong Gading. Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Dusun Keselet serta kawasan sekitar Puncak Jeringo.
Sementara itu, Desa Selaparang masih dalam pemantauan. BPBD menunggu adanya permintaan resmi untuk melakukan distribusi air bersih.
Berdasarkan pemantauan sementara, kondisi di wilayah tersebut masih relatif aman dan belum terdapat laporan krisis air yang memerlukan penanganan distribusi.
Mulyadi menjelaskan, penanganan kekeringan saat ini masih berada pada level waspada. Pemerintah daerah belum menetapkan status siaga darurat karena kondisi kekeringan dinilai masih moderat dan belum meluas ke seluruh wilayah Lombok Timur.
Menurutnya, status siaga darurat baru akan dipertimbangkan apabila kekeringan meluas secara signifikan di delapan kecamatan atau muncul permohonan penanganan darurat secara masif dari masyarakat.
Kondisi tersebut berbeda dengan kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya yang cakupannya lebih luas, termasuk pada 2023 hingga 2025.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau kali ini diperkirakan berlangsung lebih panjang hingga Desember 2026. Meski demikian, intensitas kekeringan diprediksi masih berada pada kategori moderat.
BPBD Lombok Timur bersama instansi terkait pun terus memantau perkembangan kondisi di sejumlah wilayah dan menyalurkan air bersih berdasarkan kebutuhan serta permintaan masyarakat terdampak. (rus)



