Dompu (Suara NTB) – Layanan cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu, sangat tinggi. Berdasarkan data sekitar 80 pasien masih masuk dalam daftar antrean untuk mendapatkan layanan hemodialisa. Jumlah itu belum termasuk pasien yang rutin menjalani cuci darah menggunakan 10 unit mesin yang tersedia di rumah sakit.
Kasi Humas dan Pemasaran RSUD Dompu, Muhammad Iradat, S.Gz., kepada Suara NTB, Jumat (18/9) mengatakan tingginya antrean menunjukkan kebutuhan layanan cuci darah cukup besar. Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga pola hidup dan pola makan untuk menekan risiko penyakit yang dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal.
Menurut Iradat, pasien yang sudah terjadwal menjalani hemodialisa tidak dapat begitu saja menghentikan terapinya. Jika kapasitas layanan di RSUD Dompu tidak mampu menampung seluruh pasien, mereka terpaksa akan dirujuk ke rumah sakit lain.
“Ketika pasien yang antre ini harus segera dilayani, mereka akan dirujuk ke RS Manambai Sumbawa atau ke RSUD NTB di Mataram. Karena pasien yang sudah terjadwal layanannya tidak bisa terputus. Jika terputus, kondisinya akan semakin parah,” ungkapnya.
Iradat menyebut, pasien yang menjalani cuci darah tidak hanya berasal dari kalangan dewasa atau lanjut usia. Beberapa pasien di antaranya bahkan masih berusia remaja.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu menjadi perhatian bersama, khususnya dalam membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini. Konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi serta minuman pemanis secara berlebihan perlu diwaspadai sebagai bagian dari pola hidup yang tidak sehat.
“Di kota-kota besar sudah banyak anak menderita gagal ginjal dan harus dilakukan cuci darah. Hal itu akibat dari sering mengonsumsi minuman bersoda, mengandung pemanis buatan dan zat kimia. Itu yang harus diwaspadai bersama,” kata mengingatkan.
Ia menambahkan gangguan ginjal dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk pola makan yang tidak sehat, kurangnya asupan cairan, serta penggunaan obat-obatan yang tidak tepat atau berlebihan.
“Di Dompu banyak mengonsumsi air minum yang tinggi zat kapur. Air itu seharusnya dimasak sebelum dikonsumsi,” katanya.
Tingginya antrean layanan hemodialisa di RSUD Dompu diharapkan menjadi perhatian masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan, terutama melalui pola makan seimbang, kecukupan minum, serta penggunaan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. (ula)



