Mataram (Suara NTB) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB melanjutkan inspeksi mendadak (sidak) untuk memantau ketersediaan dan harga semen di Pulau Lombok. Setelah sebelumnya menyasar Lombok Timur, pemantauan dilanjutkan ke sejumlah distributor dan toko bangunan di Kota Mataram dan Lombok Tengah.
Kepala Disperindag NTB, Lalu Wiranata, Selasa, 29 September 2026 mengatakan, pemantauan dilakukan sebagai tindak lanjut laporan masyarakat mengenai berkurangnya pasokan semen dan kenaikan harga di pasaran.
“Laporan pemantauan yang kemarin, hari ini turun ke Mataram dan Loteng,” kata Wiranata.
Ia menyampaikan, dalam pemantauan di Lombok Timur, Disperindag menemukan pasokan semen di tingkat distributor mengalami penurunan cukup signifikan. Distributor Semen Indonesia yang menyalurkan Semen Gresik dan Merdeka, misalnya, dalam kondisi normal menerima pasokan sekitar 65 ton per hari. Saat ini pasokan hanya sekitar 40 ton per hari.
Meski pasokan berkurang, harga di tingkat distributor belum mengalami perubahan. Semen Merdeka dijual sekitar Rp55 ribu per zak, sedangkan Semen Gresik sekitar Rp65 ribu per zak.
Kondisi serupa ditemukan pada distributor Semen Tiga Roda, PT Saka Agung Abadi. Pasokan normal yang mencapai 12 truk per hari kini turun menjadi sekitar 5-7 truk. Harga di tingkat distributor masih berada di kisaran Rp65.800 per zak.
Penurunan pasokan tersebut mulai terasa di tingkat pengecer. Toko Bangunan Citra Persada yang biasanya mampu melayani penjualan sekitar 10 ribu-12 ribu zak, kini hanya sekitar 5 ribu zak. Permintaan konsumen juga didominasi semen merek Tiga Roda.
Di tingkat toko, harga semen Tiga Roda tercatat sekitar Rp66 ribu-Rp68 ribu per zak atau naik sekitar Rp2 ribu-Rp3 ribu dari harga distributor.
Wiranata mengatakan, kenaikan harga di tingkat pengecer tidak terlepas dari berkurangnya pasokan yang diterima distributor. Salah satu faktor yang memengaruhi pasokan adalah terganggunya suplai batu bara ke pabrik semen.
Selain itu, distribusi batu bara menuju pabrik juga menghadapi kendala akibat persoalan ketersediaan BBM. Kendaraan pengangkut batu bara disebut mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar sehingga turut menghambat rantai pasokan.
Di sisi lain, permintaan semen meningkat seiring banyaknya proyek yang tengah dikerjakan menjelang akhir tahun. Kondisi ini membuat kebutuhan pasar meningkat ketika pasokan justru terbatas.
“Permintaan meningkat, sementara pasokan terbatas. Ini yang memicu kenaikan harga,” demikian hasil pemantauan Disperindag NTB.
Disperindag NTB menurutnya akan terus melanjutkan pemantauan di sejumlah wilayah untuk memastikan kondisi pasokan dan perkembangan harga semen di tingkat distributor hingga pengecer. (bul)



