Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemkab Sumbawa segera menyusun Detail Engineering Design (DED) atau dokumen perencanaan penanganan abrasi di Dusun Aik Bari, Desa Kukin, Kecamatan Moyo Utara. Pasalnya,abrasi dikhawatirkan terhadap 300 kepala keluarga di wilayah tersebut.
“Kita akan segera susun DED untuk penanganannya, kita juga akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara 1 karena itu domainnya mereka,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumbawa, Dr. H. Budi Prasetiyo, Rabu (7/10).
Penyusunan DED tersebut sangat penting untuk mengetahui kebutuhan anggaran termasuk pola penanganan. Sekda mengatakan pola penanganan berupa pemasangan beronjong secara permanen atau metode lainnya. Sebagai langkah antisipasi dini kata Sekda, pihaknya segera melakukan penanganan darurat terhadap wilayah yang terdampak, karena pemerintah tidak lagi menyiapkan program rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap upaya penanganan lebih lanjut.
“Kita akan lakukan penanganan sementara secara darurat terlebih dahulu,sehingga kerusakan yang ditimbulkan nantinya bisa mampu diminimalisir dan masyarakat bisa merasa aman,” ucapnya.
Selain itu, pemerintah juga akan melakukan penyesuaian tata letak lokasi untuk memudahkan akses masyarakat di dua dusun yakni Aik Bari dan Dusun Bajo. Termasuk meninjau kesiapan bahu jalan untuk membangun jalan yang lebih aman bagi masyarakat.
Dikatakan Sekda, Pemkab Sumbawa telah berkoordinasi awal dengan pihak terkait untuk memudahkan akses mobilisasi masyarakat,sehingga kerusakan jalan tidak semakin parah.
“Kita sudah siapkan skema penanganan yang akan dilakukan nanti, tinggal kita menunggu hasil DED untuk kita sampaikan ke BBWS NT 1 dalam penanganan lanjutan,” tukasnya.
Kepala Desa Kukin, Suhri menyebutkan sekitar 300 kepala keluarga (KK) di Dusun Aik Bari terancam terdampak abrasi jelang musim penghujan di bulan Desember. Dampak abrasi yang terjadi di tahun 2025 hingga kini belum ditangani oleh pemerintah daerah.
“Abrasi tahun sudah hampir mendekati jalan lingkungan dan belum ada penanganan khusus,” kata dia.
Selain itu, puluhan rumah warga dan masjid juga terancam terdampak abrasi. Kondisi ini telah dilaporkan kepala daerah. Lambatnya intervensi dari pemerintah daerah menjadi pertimbangan bagi masyarakat memperbaiki secara swadaya. Warga memasang tanggul darurat menggunakan karung berisi pasir, agar tidak terjadi kerusakan cukup panjang. (ils)



