Dompu (Suara NTB) -Ratusan sampan mini dengan layar warna-warni beradu kecepatan membelah gelombang Pantai Labuhan, Desa Hu’u, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu. Tanpa mesin maupun pengemudi, perahu-perahu mungil itu melaju mengandalkan hembusan angin dalam ajang Lomba Sampan Mini 2026 yang digelar pada 6–16 Oktober.
Lomba yang diselenggarakan Pemangku Adat Hu’u bersama Pemerintah Desa Hu’u ini bukan sekadar hiburan rakyat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi bahari masyarakat pesisir Teluk Cempi sekaligus mengasah kreativitas dan mempererat kebersamaan warga.
Lebih dari 300 sampan mini ambil bagian dalam perlombaan tahun ini. Peserta dibagi menjadi tiga kelas berdasarkan ukuran perahu, yakni kelas A dengan panjang maksimal 150 sentimeter, kelas B maksimal 170 sentimeter, dan kelas C maksimal dua meter.
Keunikan lomba ini terletak pada kemampuan peserta merancang sampan, agar mampu melaju cepat dan tetap stabil menghadapi gelombang laut. Setiap sampan menggunakan layar plastik sebagai penangkap angin, sementara bentuk badan perahu dan pengaturan tali layar menjadi penentu arah serta keseimbangannya.
Sampan dilepas dari garis start untuk menempuh lintasan sepanjang ratusan meter menuju finis. Tanpa seorang pun di atasnya, sampan harus mampu mempertahankan arah dan tidak terbalik diterjang gelombang.
Persaingan berlangsung ketat hingga babak penentuan juara umum yang mempertemukan para pemenang dari masing-masing kelas.
Sampan Cari Angin milik Rustam, warga Dusun Sigi, Desa Hu’u, akhirnya keluar sebagai juara umum setelah sebelumnya menjuarai kelas A. Posisi kedua ditempati sampan Jin Laut milik Fakhrurrazi, juga warga Dusun Sigi, yang berhasil menjuarai kelas B. Fakhrurrazi sekaligus memborong juara pertama kelas C dan posisi ketiga dalam perebutan juara umum.
Bagi Rustam, kemenangan tahun ini menjadi pencapaian tersendiri. Pasalnya, pada perlombaan 2025, sampan hasil karyanya hanya mampu menempati posisi kedua. “Ini tidak lepas dari takdir dan harus kita syukuri,” kata Rustam.
Ia mengungkapkan, membuat sampan mini membutuhkan keterampilan khusus, mulai dari memilih dan membentuk kayu pilihan hingga mengatur keseimbangan badan perahu. Posisi layar plastik dan tali pengarah juga harus diperhitungkan agar sampan tetap melaju meski diterpa angin dan gelombang.
Kepala Desa Hu’u, Mujahidin, S.Sos., pekan kemarin mengatakan, lomba sampan mini merupakan penyelenggaraan keempat. Kegiatan tersebut terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir Hu’u.
Menurutnya, selain menjadi hiburan, perlombaan ini memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan membuat perahu.
“Lomba sampan mini merupakan budaya turun-temurun masyarakat pesisir yang terus kami dukung. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari PT Sumbawa Timur Mining (STM) bersama perusahaan mitranya,” ungkap Mujahidin.
Ia mengapresiasi kontribusi STM yang dinilai konsisten mendukung berbagai kegiatan sosial dan budaya masyarakat Hu’u, termasuk penyelenggaraan lomba sampan mini. “Dukungan PT STM tidak hanya pada lomba sampan mini, tetapi juga berbagai kegiatan yang diselenggarakan di Hu’u. Ini patut kita berikan apresiasi,” ujarnya.
Mujahidin juga mengajak masyarakat menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah. Menurutnya, situasi yang aman menjadi salah satu faktor penting bagi kelancaran operasional STM di kawasan Hu’u, yang diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja dan usaha bagi masyarakat setempat.
Sementara itu, Ketua Pemangku Adat Hu’u, Abdul Malik mengatakan, tradisi sampan mini telah mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Kendati demikian, nilai budaya dan kebersamaan yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan. Malik berharap lomba tersebut, menjadi agenda tahunan yang melibatkan lebih banyak generasi muda. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan STM dan berharap kegiatan operasional perusahaan dapat berjalan normal sehingga memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat dan pembangunan daerah. (ula)



