Mataram (Suara NTB) – Semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober bukan sekadar kenangan sejarah, melainkan semangat yang terus dihidupkan oleh para pemuda masa kini. Begitu juga dilakukan para pemuda di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang hadir dan berkarya di bidang masing-masing. Para pemuda menyuarakan pentingnya persatuan, pelestarian budaya, kepekaan terhadap lingkungan, dan keberanian untuk menciptakan karya.
Pamela Paganini, musisi dan biduanita asal Praya, Lombok Tengah (Loteng) memaknai peristiwa Sumpah Pemuda sebagai kesungguhan para pemuda dalam merespons apa yang terjadi di sekelilingnya.
“Dengan kata lain, para pemuda mestinya memiliki kepekaan dalam membaca apa yang sedang terjadi dan tidak memilih diam. Tetapi mengeksplorasi, mencari cara untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, dan menyuarakan apa yang semestinya diperbaiki atau diperbincangkan, untuk setidaknya menyadari apa yang terjadi, dan lebih jauh lagi mengubah apa yang semestinya bisa diubah,” ujar Pamela.
Pamela Paganini telah menghasilkan berbagai karya. Ia merilis album pertama beraliran folk-pop berjudul Wonder pada tahun 2018, dilanjutkan album Jantera tahun 2021 dengan lagu-lagu andalan “Ombak Pasang” dan “Jantera”. Bersama Yuga Anggana, ia juga meluncurkan lagu “Bale Mengina”, sebuah karya musik sekaligus dokumentasi warisan arsitektur rumah adat Bayan di Lombok Utara. Single terbarunya, “Pulang” (2023), sempat ia turkan ke beberapa kota di Jawa. Terbaru, alihwahana puisi Iin Farliani berjudul “Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi”.
Dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda ini, ia berharap harap anak muda terus mengeksplorasi dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Anak muda diajak lebih peka untuk mengetahui apa yang ada di realita.
“Sehingga kita bisa terhubung dengan kehidupan kita sehari-hari, tidak pasif, gunakan gairah kalian untuk mengerjakan banyak hal untuk menghasilkan karya yang baik dan bermanfaat bagi banyak orang,” ajak Pamela.
Anak Muda Jangan Takut Berkarya
Hal senada disampaikan, Muhammad Ikhwan Sa’roni, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram (FKIP Unram). Ia meraih juara harapan 2 tangkai lomba penulisan lakon di Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII tahun 2026.
Sa’roni menemukan jalannya berkarya melalui dunia tulis lakon dan teater. Minatnya bermula pada awal tahun 2026. Kemudian ia melihat peluang untuk menulis, melakoninya, dan akhirnya mengantarkannya meraih prestasi nasional.
Sa’roni menghubungkan Sumpah Pemuda dengan teater. Menurutnya, di teater, seorang aktor bisa menjadi diri sendiri atau pun orang lain. Dengan begitu, ia bisa melihat sudut pandang keberagaman dari praktik berteater itu.
“Jangan takut berkarya. Ketika sudah mencoba, nanti ada jalannya, misalnya sekarang anggap menulis itu sulit, ketika sudah terjun, tentu kita belajar dari hal yang kita tidak ketahui. Setelah belajar dan memperdalam tentu akan menghasilkan karya yang lebih bagus,” ajaknya.
Memperkuat Bahasa Persatuan Sesuai Ikrar Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda berisikan tiga ikrar yang menegaskan persatuan sebagai bangsa. Ikrar ketiga, yaitu menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia menghadapi tantangan di era globalisasi saat ini. Meski demikian, banyak anak muda yang terus menguatkan penggunaan bahasa Indonesia di kehidupan sehari-hari. Salah satunya mereka yang tergabung ke dalam Ikatan Duta Bahasa (Ikadubas) NTB di bawah naungan Balai Bahasa NTB.
Arum Dwi Setia Ningsih, Wakil Ketua 1 Ikadubas NTB, melihat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. “Jadi bahasa Indonesia alat pemersatu bangsa. Apalagi saat ini banyak anak muda mencampuradukkan bahasa. Peran kami sebagai duta bahasa, mengajak berbahasa Indonesia yang baik dan benar,” ujarnya.
Untuk itu, ia mengajak para pemuda untuk senantiasa melestarikan bahasa Indonesia. Ia mengutip slogan Trigatra Bangun Bahasa yang digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan bahasa, yaitu Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa daerah, dan Kuasai Bahasa Asing. “Mari mengutamakan bahasa Indonesia, di tengah banyak orang menggunakan bahasa asing,” ajaknya.
Semangat ketiga pemuda ini mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda diwujudkan dengan cara mencintai identitas bangsa, mengembangkan bakat, dan saling menguatkan untuk terus berkarya, apa pun bidangnya. (ron)



