BerandaNTBSUMBAWATelur Woku Diduga Penyebab Siswa Keracunan MBG

Telur Woku Diduga Penyebab Siswa Keracunan MBG

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa telah mengirim sampel makanan penyebab keracunan 34 siswa di Tarano ke Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) untuk dilakukan pengujian. Dugaan sementara keracunan bersumber dari telur woku yang dimasak terlalu dini.

“Kepastiannya kita menunggu hasil uji laboratorium BBPOM. Kita masih memperkirakan karena telur yang dicium sudah ada yang berbau,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, H. Sarip Hidayat kepada Suara NTB melalui sambungan telepon, Selasa (3/11).

Makanan yang dikirim untuk dilakukan pengujian merupakan makanan yang diberikan kepada siswa dan penerima manfaat lainnya. Standar operasional prosedur (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat akan menyajikan makanan harus ada sampel makanan yang disimpan.

Penyimpanan sampel makanan tersebut dilakukan selama 2X24 jam di dalam kulkas, sehingga sampel itu bisa langsung diambil untuk melakukan proses pengujian saat ditemukan keracunan.

“Kalau untuk kepastian faktor keracunannya kita masih menunggu hasil uji laboratorium BBPOM. Kita baru terima hasilnya paling lama satu atau dua minggu kedepan,” ucapnya.

Ia mengimbau kepada seluruh SPPG untuk patuh terhadap SOP yang sudah ditetapkan pemerintah baik dari pemilihan bahan baku makanan, alat pelindung diri dari para penjamah makanan, dan waktu dalam memasak makanan tersebut.

Hal tersebut dianggap sangat penting untuk diterapkan secara optimal,sehingga kejadian keracunan bisa diminimalisir. Dikatakan, kasus dugaan keracunan dari Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan kali ini saja terjadi di Sumbawa, tetapi sudah beberapa kali terjadi.

“SOP ini harus dipatuhi dengan baik dan dilaksanakan. Kita tidak ingin ada kejadian lagi sehingga penerapan SOP harus dilaksanakan secara maksimal,” tambahnya.

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara aktivitas Satuan Layanan Pemenuhan Gizi (SPPG)  Labuhan Bontong, Kecamatan Tarano. Penghentian tersebut dilakukan pasca 34 siswa diduga mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan tersebut. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO