Dompu (Suara NTB) – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Dompu menargetkan peningkatan jumlah pelanggan mencapai 23 ribu sambungan rumah (SR) pada 2030. Target tersebut menjadi bagian dari upaya menyehatkan perusahaan sekaligus memperluas pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Untuk mendukung target tersebut, Pemda Dompu telah mencantumkan rencana pinjaman daerah senilai Rp40 miliar kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dalam KUA-PPAS APBD 2027. Pinjaman itu direncanakan untuk mendukung pembenahan PDAM dan pembangunan penerangan jalan umum (PJU).
Pelaksana tugas (Plt) Direktur PDAM Dompu, H Didi Wahyudin, SE, kepada Suara NTB, Selasa (3/11), mengaku telah mendapatkan informasi mengenai rencana pinjaman tersebut. Menurutnya, Pemda selama ini juga selalu melibatkan PDAM dalam pembahasan rencana pembiayaan tersebut. “Sebagai pengelola, kami siap mendukung dan menyukseskan rencana pinjaman itu,” katanya.
Didi menjelaskan, pihaknya akan mengelola tiga sumber air baku berskala besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kecamatan Dompu dan Woja. Ketiganya yakni Instalasi Pengolahan Air (IPA) Rora berkapasitas 100 liter per detik, IPA Selaparang 40 liter per detik, serta IPA Mila yang direncanakan memiliki kapasitas 100 liter per detik.
Saat ini, dua Instalasi Pengolahan Air yakni Rora dan Selaparang telah beroperasi. Keberadaan kedua instalasi tersebut mulai menunjukkan peningkatan pelayanan. Kontinuitas distribusi air rata-rata mencapai 15,55 jam per hari, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang hanya sekitar delapan jam per hari.
Begitu pula tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) yang berhasil ditekan dari 65 persen pada 2024 menjadi 34,36 persen. Angka tersebut berdasarkan hasil audit BPKP terhadap PDAM Dompu tahun 2026.
Meski demikian, Didi tidak menampik masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk membawa PDAM keluar dari status perusahaan sakit. Cakupan pelayanan air minum baru mencapai 9,23 persen atau masih jauh dari target 26,25 persen. Sementara, kualitas air PDAM yang memenuhi persyaratan kesehatan baru mencapai 7,99 persen.
“Memang ada progres perbaikan dari tahun ke tahun. Bahkan untuk manajemen dan keuangan, hasil audit BPKP kita sudah WTP. Tapi karena masalah dasarnya, pelayanan air bersih yang belum teratasi, sehingga PDAM belum keluar dari status sakit,” jelasnya.
Untuk memperluas pelayanan, PDAM menargetkan jumlah pelanggan mencapai 23 ribu sambungan pada 2030. Sementara saat ini pelanggan resmi baru sekitar 5.300 sambungan, berkurang dari sebelumnya yang tercatat sekitar 8.000 pelanggan.
Pengurangan sekitar 3.000 pelanggan tersebut terjadi karena berbagai persoalan, di antaranya pemasangan sambungan ilegal, keterbatasan jangkauan distribusi air, dan sejumlah persoalan teknis lainnya.
Karena itu, salah satu fokus pemanfaatan dukungan pembiayaan melalui pinjaman PT SMI adalah peremajaan jaringan pipa umum (JPU) dan jaringan pipa pembagi (PJP) menuju saluran rumah tangga (SR). Pembenahan jaringan ini diharapkan mampu memperlancar distribusi sekaligus membuka peluang penambahan pelanggan baru.
Didi menyebutkan, penanganan persoalan air bersih di Dompu melibatkan tiga pihak, yakni Balai Wilayah Sungai (BWS), Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW), dan Pemda Dompu.
Sesuai rencana, BWS akan menangani pembangunan pipa transmisi dan intake dengan rencana anggaran mencapai Rp69 miliar. Sementara, BPPW akan membangun IPA Mila sekaligus melakukan optimalisasi IPA Rora dan IPA Selaparang.
Dengan dukungan pembangunan infrastruktur tersebut, PDAM optimis kapasitas produksi dan jangkauan pelayanan air bersih di Dompu akan semakin meningkat. Pihaknya akan ikut membantu pembayaran cicilan pinjaman daerah melalui kontribusi dividen perusahaan setelah pembenahan jaringan dan peningkatan pelayanan air bersih berjalan optimal.
“Setelah peremajaan pipa dan distribusi air bersih semakin lancar, PDAM Dompu optimistis bisa membantu daerah mencicil pinjaman ke PT SMI dari dividen. Itu sudah menjadi komitmen dan saya optimistis bisa direalisasikan,” tandasnya. (ula)



