Sumbawa Besar (Suara NTB) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumbawa masih membutuhkan anggaran sekitar Rp300 miliar untuk menuntaskan pembangunan rumah sakit yang berada di Desa Sering, Kecamatan Unter Uwes.
“Pembangunan RSUD Sering baru di angka 27 persen, di akhir tahun 2025 nanti kita targetkan 37 persen dan yang sedang berproses sebesar 10 persen,” Kata Direktur RSUD Sumbawa, dr. Mega Harta kepada Suara NTB, Selasa, 19 Agustus 2025.
Mega melanjutkan, sementara untuk anggaran tahun 2026, ia mengaku sampai dengan saat ini belum ada informasi lebih lanjut untuk pembangunan rumah sakit tersebut. Namun demikian, pihaknya sangat berharap agar setiap tahunnya ada dukungan anggaran dari pemerintah dalam menuntaskannya.
“Tahun 2026 kami belum dapat informasi ada atau tidaknya anggaran, tetapi kami berharap bisa dilanjutkan demi pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ucapnya.
Ia pun turut merincikan, yang masuk dalam progres 37 persen itu yakni pembangunan gedung C tuntas di tahun 2025. Gedung H yang diperuntukkan untuk penanganan sakit jiwa juga ditargetkan tuntas di tahun 2025.
“Gedung C akan kita gunakan sebagai KIA (kesehatan ibu dan Anak), tempat cathlab, obat, dan kegawatdaruratan (ICU, PICU, dan NICU),” ucapnya.
Kemudian gedung A progres pembangunannya baru seperempat jadi, karena bangunan tersebut harusnya dua lantai. Sementara untuk gedung E yang diperuntukkan bagi pasien rawat inap progres saat ini baru seperenam karena yang terbangun baru lantai 1 saja.
“Gedung E sebenarnya harus panjang dan dobel, bangunan itu juga harus tiga lantai. Tapi kami khawatir jika pembangunan ini dilanjutkan, karena struktur bangunan bawah kontraktornya beda,” jelasnya.
Mega pun meyakinkan, pembangunan rumah sakit ini tidak bisa dilakukan secara parsial melainkan harus secera keseluruhan. Apalagi pembangunan rumah sakit ini harus saling terhubung mulai dari IGD, ruang pasien, poli dan keberadaan laboratoriumnya juga harus jelas.
“Jadi, bangunan rumah sakit itu harus inter connected hal itu sesuai dengan ketentuan salah satunya sirkulasi pasien harus se efektif mungkin dan tidak boleh beroperasi di dua tempat,” tambahnya.
Pembangunan fasilitas itu perlu dilakukan karena RSUD Sumbawa sudah ditetapkan sebagai rumah sakit pengampu jejaring pelayanan Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi serta Kesehatan Ibu dan Anak (KJSU-KIA) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Penunjukan ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan peran dan fungsi RSUD Sumbawa dalam memberikan pelayanan kesehatan lengkap dan bermutu bagi masyarakat,” timpalnya.
Sebagai rumah sakit pengampu KJSU-KIA tentu sangat disyukuri dan ini merupakan amanah besar dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Apalagi Sumbawa menjadi satu satunya rumah sakit yang mendapatkan kepercayaan terkait pelayanan tersebut.\
“Penunjukan ini adalah sebuah amanah besar yang harus kita emban dengan penuh tanggung jawab. Sehingga kami berharap fasilitas penunjang dan pendukung bisa segera dilengkapi,” tukasnya. (ils)


