spot_img
Minggu, Juli 14, 2024
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURLotim Status Siaga Kekeringan

Lotim Status Siaga Kekeringan

Selong (Suara NTB) – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini masih dalam status siaga kekeringan. Sejumlah wilayah di Bumi Patuh Karya ini diketahui sudah mulai terkena dampak kemarau. Sejumlah sumur warga mengering. Lotim siap menyambut siaga darurat kekeringan yang diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat.

Hal ini dikemukakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim, Lalu Mulyadi menjawab Suara NTB, Rabu, 3 Juli 2024. Mengutip informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terpantau dari dinamika atmosfer akan terjadi pergeseran dari elnino menuju lanina.

Curah hujan di wilayah Lombok Timur dasarian  Juni III sangat rendah. Yakni pada angka 0 – 50 mm/das. Kondisi Dinamika Atmosfer, prediksi indeks Enso akan beralih menuju LA- NINA Periode Juli, Agustus dan September.

Peluang Curah Hujan bulan Juli ini dari data BMKG tersebut sangat rendah. Prediksi terjadi dari tanggal 1 – 10 Juli 2024. Terlihat beberapa tempat di Lotim ada yang mulai mendung dan turun hujan dengan curah yang sangat rendah.

Dijelaskan berdasarkan data dari BMKG tersebut satu kecamatan di Lotim yakni Sambelia masuk level awas. Sedangkan tujuh kecamatan lainnya yakni Kecamatan Jerowaru, Keruak, Sakra Barat, Pringgabaya, Suela, Sikur, Labuhan Haji masuk level waspada.

Perubahan status dari level siaga ke tanggap darurat kekeringan ini menunggu tujuh kecamatan tersebut masuk dalam level awas. Karena itu, guna mengurangi dampak kekeringan yang berkepanjangan dimbau kepada wilayah kecamatan yang sudah ada turun hujan hendaknya melakukan panen air dengan cara mengisi waduk dan embung-embung rakyat yang tersedia.

Pada situasi status siaga ini, sambung Lalu Mulyadi belum mulai dilakukan pendistribusian air bersih. Hal juga dikarenakan belum ada permohonan dari warga melalui pemerintah desa masing-masing. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD sudah diminta turun ke lapangan mengecek situasi dan melapporkan fakta lapangan. Hasil dari laporan inilah kemudian akan menjadi pertimbangan perubahan status dari waspada menuju tanggap darurat mengatasi masalah kekeringan.

Sementara itu, pantauan Suara NTB di beberapa desa di wilayah Kecamatan Jerowaru sudah mulai mengalami krisis air bersih. Seperti di Desa Pene Kecamatan Jerowaru terlihat sumur-sumur warga mengering.

Hamdi salah satu warga Sagik Mateng Desa Pene memperlihatan sumurnya sudah mengering sejak tiga bulan terakhir. Ia menduga, tahun ini krisis air  bersih kembali akan lebih panjang seperti yang sudah pernah dialami tahun 2018 silam.

Guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, Hamdi mulai membeli air. Satu tangki air bersih dibeli dengan harga Rp 250 ribu ukuran 5000 liter. Air bersih yang dibeli ini kemudian digunakan untuk mengisi sumurnya. Dalam sebulan, katanya ia membeli 4-5 tangki air bersih guna memenuhi kebutuhan sekeluarga. (rus)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -



Most Popular

Recent Comments