Taliwang (Suara NTB) – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mencatat kegiatan vaksinasi rabies yang dilaksanakan sepanjang tahun 2025 ini telah menjangkau sebanyak 2.200 Hewan Pembawa Rabies (HPR).
“Sampai bulan Oktober 2025, pemberian vaksin rabies terhadap HPR seperti anjing dan kucing sudah mencapai 2 ribu lebih,” terang Kepala Distan KSB melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet), drh. Hikmatul Azmy, Senin, 10 November 2025.
Kegiatan vaksinasi itu dilaksanakan menyeluruh di delapan kecamatan. Hikmatul menjelaskan, sejak Januari hingga bulan Oktober pihaknya secara maraton turun lapangan. Vaksinasi difokuskan pada hewan peliharaan masyarakat yang berpotensi sebagai HPR. “Kucing dan anjing peliharaan, termasuk kera, kami upayakan mendapatkan vaksin. Karena hewan-hewan itu masuk kategori HPR,” cetusnya.
Vaksin rabies yang didistribusikan oleh Distan KSB untuk pencapaian 2.200 HPR itu dijelaskan Hikmatul, berasal dari dua sumber. Sebanyak 1.200 dosis berasal dari pengadaan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2025. Sementara sisanya 1.000 dosis berasal dari pemerintah Provinsi NTB. “Selain pengadaan mandiri ada juga bantuan vaksin dari provinsi untuk mendukung kegiatan pencegahan rabies di tempat kita ini,” urainya.
Menurutnya, vaksinasi rabies itu difokuskan pada HPR bertuan atau dimiliki warga. Sementara anjing dan kucing liar tidak disasar karena program vaksinasi hanya dikhusukan kepada HPR peliharaan. “Kalau yang liar sebenarnya bisa (dilakukan vaksin), tapi terlalu ribet sehingga kami fokus saja yang peliharaan. Tujuannya untuk menguatkan imunitas mereka sehingga tidak tertular saat tergigit HPR liar,” paparnya.
Sebagai daerah dengan status tertular rabies, KSB ditargetkan harus melakukan vaksinasi terhadap minimal 70 persen polulasi HPR (peliharaan). Data Distan KSB menunjukkan, tahun ini ada sekitar 4.574 HPR peliharaan baik jenis kucing maupun anjing.
Selain melakukan vaksinasi upaya lain untuk mencegah kasus gigitan HPR, Distan KSB rutin pula melaksanakan sosialisasi. Pihaknya kata Hikmatul, intens menggelar agenda Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) yang sasarannya fokus kepada para orang tua dan anak-anak. Sosialisasi ini tujuannya menumbuhkan kesasadaran serta edukasi pencegahan akan bahaya penyakit rabies kepada masyarakat secara umum.
“Dalam sosialisasi kami tekankan bahwa penanganan awal yang tepat saat terjadi gigitan HPR sangat penting agar virus tidak berkembang dalam tubuh. Kami juga mengimbau masyarakat agar mengikuti prosedur penanganan di Puskesmas dan tidak menunda pemeriksaan,” imbuh Hikmatul. (bug/*)

