Kota Bima (suarantb.com) – Setiap kali musim hujan tiba, warga RT 06 Kelurahan Lampe, Kota Bima, hidup dalam rasa waswas. Permukiman mereka berada tepat di pinggir Sungai Lampe, sehingga setiap kali debit air meningkat, ancaman banjir selalu mengintai.
Kekhawatiran itu kembali terbukti pada Sabtu (8/11/2025), ketika banjir besar menerjang wilayah tersebut dan mengakibatkan satu rumah hanyut serta sejumlah lahan pertanian warga terdampak.
Rumah milik Burhan menjadi korban terparah dalam peristiwa itu. Ia bersama istri dan tiga anaknya selamat setelah lebih dulu mengungsi ke rumah mertuanya. “Sebelum rumah hanyut, kami sudah mengungsi. Hanya sempat bawa barang-barang penting seperti lemari, baju, dan surat-surat (penting). Sisanya terbawa bersama rumah,” ujarnya kepada Suara NTB, Senin (10/11/2025).
Burhan tak kuasa menahan sedih saat menyaksikan rumahnya hanyut di depan mata. “Perasaan saya sedih dan sakit hati. Harapan saya, semoga pemerintah bisa bantu tempat tinggal untuk kami sekeluarga. Entah tanah atau rumah, semoga ada bantuan,” ungkapnya penuh harap.
Tak hanya rumah warga yang menjadi korban, banjir juga merendam lahan pertanian di sekitar Sungai Lampe. Muhidin, salah seorang petani, mengatakan lima petak sawahnya yang luasnya sekitar 50 are ikut terendam. “Padinya sudah siap panen. Rencananya mau panen hari Minggu, tapi banjir datang Sabtu malam,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, jika berhasil panen, padi dari lima petak sawah itu bisa mencapai 50 karung. Kini, sawahnya tertutup lumpur dan pasir tebal. “Sudah tidak bisa ditanami lagi. Ini baru hujan awal musim, bagaimana nanti kalau hujan terus? Air sungai pasti masuk lagi ke sawah,” katanya khawatir.
Muhidin menambahkan, banjir kali ini disebabkan curah hujan tinggi di wilayah hulu. “Di Lampe tidak hujan besar, tapi di (Kecamatan) Wawo (Kabupaten Bima) sana hujan sampai subuh,” ujarnya.
Warga lain, Abdul Faid, juga menyampaikan harapannya agar pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) segera turun tangan mengatasi persoalan tersebut. “Harapan kami, BWS segera atasi bencana ini supaya pemukiman di RT 06 tidak terus tergerus. Cukuplah satu rumah yang jadi korban, jangan ada lagi rumah lain,” pintanya.
Sementara itu, Lurah Lampe, H. Muslim, SH, membenarkan bahwa banjir pada Sabtu malam tersebut hanya merendam permukiman di RT 06. “Yang hanyut satu rumah, tapi lahan pertanian yang terdampak cukup banyak. Lahan yang digerus banjir sampai 12 meter,” jelasnya.
Ia menuturkan, berdasarkan data sementara yang telah dikirim ke Pemerintah Kota (Pemkot) Bima, terdapat sekitar 60 warga yang memiliki lahan di sepanjang aliran sungai dari ujung timur hingga perbatasan Kelurahan Kodo. Dari jumlah itu, 10 di antaranya memiliki lahan berisi tanaman padi dan kacang yang ikut terdampak.
Lebih lanjut, Lurah Muslim menilai penyebab utama banjir adalah kerusakan hutan di wilayah hulu akibat pembabatan lahan. “Aliran sungai di sini datang dari Kecamatan Wawo. Permasalahan sebenarnya ada pada pembabatan hutan. Harapannya, pemerintah bisa melakukan reboisasi dan perbaikan hutan dengan tanaman tahunan. Warga Lampe tidak ingin melihat tanaman jagung lagi, kami ingin tanaman tahunan,” tegasnya.
Kini, warga RT 06 Lampe yang tinggal di pinggir Sungai Lampe hanya bisa hidup dalam kewaspadaan. Setiap kali langit di timur mulai gelap, mereka bersiap diri. Setiap mendung tiba, rasa cemas pun menghantui, takut jika rumah dan sawah kembali hilang diterjang air bah. (hir)

