Kota Bima (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup Kota Bima, kewalahan mengatasi tumpuk sampah. Produksi sampah mencapai 80-100 perhari. Keterbatasan armada sehingga hanya mampu mengangkut sekitar 60 persen dari total produksi sampah harian.
Kepala DLH Kota Bima, Syahrial Nuryadin mengatakan persoalan sampah masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah. Selain volume sampah yang terus meningkat, kapasitas pengelolaan dan pelayanan pengangkutan belum mampu memenuhi kebutuhan.
“Produksi sampah kita per hari itu sekitar 80 sampai 100 ton. Kemudian yang mampu dikelola hanya sekitar 12 ton, dan yang mampu terangkut itu baru sekitar 60 persen,” ujarnya, Kamis (11/6).
Keterbatasan armada menjadi salah satu penyebab pelayanan persampahan belum optimal. Saat ini, DLH baru melayani 36 dari 41 kelurahan dengan dukungan 25 unit kendaraan operasional.
Menurut Rian, pengelolaan sampah tidak lagi bisa bertumpu pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemerintah pusat menargetkan sebagian besar sampah ditangani dari sumber, sementara sampah yang dibuang ke TPA dibatasi.
“Target pemerintah itu 30 persen sampah yang ke TPA, sisanya terkelola dari hulu,” ujarnya.
Untuk mendukung target tersebut, DLH melanjutkan program Rabu Amal Sampah dan Maikakura yang berfokus pada pengurangan sampah plastik dan organik. Pemerintah daerah juga berencana membangun satu Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Pasar Amahami.
Selain itu, DLH mengupayakan mengaktifkan kembali bank sampah yang selama ini belum berjalan maksimal. Sebanyak 10 unit bank sampah akan menerima bantuan hibah operasional.
“Tahun ini insyaallah ada hibah untuk bank sampah itu masing-masing 10 juta untuk 10 unit bank sampah untuk bagaimana menghidupkan kembali operasional mereka,” ujarnya.
Pemkot Bima juga mengusulkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di kawasan TPA. Usulan itu telah disampaikan saat kunjungan Komisi V DPR RI dan dalam pertemuan Wali Kota Bima dengan Menteri Pekerjaan Umum.
Di sisi lain, DLH menyiapkan pola baru pengangkutan sampah melalui pemilahan sampah organik dan anorganik di tingkat kelurahan. Program percontohan akan diterapkan di satu kelurahan sebelum diperluas ke wilayah lain.
“Ini akan kami coba di satu kelurahan yang insyaallah ke depannya kalau ini sukses, akan kami terapkan di kelurahan-kelurahan lain. Ini sangat membantu menekan pengurangan sampah menuju ke TPA itu,” tandasnya. (hir)

