Kota Bima (Suara NTB) – Sejumlah sekolah mulai menjadikan keterampilan menenun kain khas Bima. Tujuannya sebagai bagian dari pembelajaran untuk menjaga keberlanjutan tradisi tenun dan melestarikan kain khas di tengah kecenderungan generasi muda yang semakin kurang tertarik pada keterampilan tersebut.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kota Bima, Abdul Haris Kurniawan, S.IP., M.M., mengatakan pembelajaran tenun terutama dikembangkan di sekolah yang berada di wilayah yang secara turun-temurun dikenal sebagai daerah penenun.
Menurut Haris, tidak semua wilayah di Kota Bima memiliki tradisi menenun. Namun, sejumlah wilayah seperti Ntobo, Oi Fo’o, dan Rabangodu memiliki sejarah tenun serta masyarakat yang masih menjalankan aktivitas sebagai penenun dan pengrajin kain.
“Kan di sini tidak semua kecamatan itu merupakan wilayah tenun. Tapi ada sekolah-sekolah didaerah yang memang tradisi masyarakat di situ penenun, pengrajin kain. Misalnya, Ntobo, Oi Fo’o, Rabangodu, itu kan ada sejarah tenunnya di situ. Yang menjadi mata pencahariannya juga,” katanya, Jumat (14/8).
Ia menilai sekolah memiliki peran penting dalam menjaga agar keterampilan menenun tidak terputus pada satu generasi. Sebab, pengetahuan yang selama ini diwariskan di tengah masyarakat membutuhkan penerus dari kalangan anak muda.
“Ilmu ini diturunkan ke anak-anak generasi muda. Kalau tidak diturunkan ke generasi muda, kan hilang nanti itu. Apalagi anak-anak muda cenderung tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu. Sekarang sekolah-sekolah sudah melirik ke arah itu sebagai upaya melestarikan budaya,” ujarnya.
Haris mengatakan, pelestarian melalui sekolah memiliki posisi berbeda karena keterampilan tersebut masuk ke lingkungan pendidikan secara formal. Dengan demikian, tenun tidak hanya dipelajari di lingkungan keluarga atau masyarakat, tetapi juga dikenalkan kepada siswa melalui kegiatan di sekolah.
“Ini lebih formal menurut saya. Lain ceritanya kalau di luar sekolah, tapi ini ada di dalam sekolah, ada pelajarannya. Dan itu anak-anak ternyata memang ahli, anak-anak putri,” katanya.
Sejumlah sekolah di wilayah Rabangodu disebut telah mengembangkan keterampilan tersebut. Di antaranya SMP 15 dan SMP 11 Kota Bima. Pengembangan keterampilan tenun dilakukan karena tradisi menenun masih hidup di lingkungan masyarakat sekitar sekolah.
Haris yang juga merupakan pengawas SMP mengaku senang melihat sekolah mulai mengambil bagian dalam pewarisan keterampilan tersebut. Menurutnya, langkah itu sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengenal keterampilan yang berkaitan langsung dengan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat di wilayahnya. (hir)


