Kamis, April 16, 2026

BerandaEKONOMISeluruh GM Hotel di Indonesia Kumpul di Lombok, Bahas Tantangan dan Masa...

Seluruh GM Hotel di Indonesia Kumpul di Lombok, Bahas Tantangan dan Masa Depan Pariwisata

Giri Menang (Suara NTB) – Lebih dari seratus General Manager (GM) hotel dari seluruh Indonesia berkumpul di Senggigi, Lombok, dalam Rapat Kerja Nasional (Raker) ke-5 Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), 16-18 April 2026.

Forum ini tak sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi ruang strategis membedah kondisi terkini industri pariwisata, termasuk dampak konflik global dan arah kebijakan ke depan.

Sebanyak 195 GM hotel dari 26 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 16 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) hadir dalam kegiatan yang digelar pada April 2026 ini. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, mulai Sabang hingga Merauke, untuk menyatukan pandangan menghadapi dinamika industri yang kian kompleks.

Ketua Umum IHGMA, Dr. I Gede Arya Pering Arimbawa bersama Nawawi Halik, Fahrurrazi, Lalu Kusnawan, dan Herryadi Baiin di lokasi kegiatan, Hotel Merumata Senggigi, Kamis, 16 April 2026  menegaskan, pemilihan Lombok khususnya Senggigi sebagai lokasi kegiatan merupakan bagian dari upaya mendorong kebangkitan destinasi yang sempat meredup.

“Kami ingin Senggigi kembali hidup. Kehadiran para GM ini diharapkan memberi dampak langsung sekaligus promosi positif,” ujarnya.

Dalam Raker ini, salah satu isu utama yang mengemuka adalah dampak konflik geopolitik, khususnya perang di Timur Tengah, terhadap industri pariwisata nasional. Meski tidak berdampak langsung secara fisik, efek psikologis dan ekonomi global cukup terasa.

Konflik tersebut memicu ketidakpastian perjalanan internasional, kenaikan biaya operasional, hingga perubahan rute penerbangan. Beberapa maskapai melakukan penyesuaian jalur, bahkan mengurangi frekuensi penerbangan ke kawasan tertentu.

Hal ini berimbas pada arus wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia, terutama ke destinasi utama seperti Bali dan NTB.

“Dampaknya pasti ada. Tapi kalau dibandingkan dengan pandemi Covid-19, kondisi sekarang belum seberapa. Kita sudah punya pengalaman menghadapi krisis, sehingga lebih siap menyusun strategi,” jelasnya.

Selain faktor geopolitik, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pada 2025 hingga awal 2026 juga memberikan tekanan signifikan. Pemangkasan belanja perjalanan dinas dan kegiatan pemerintah berdampak langsung pada tingkat hunian hotel, khususnya di kota-kota dan destinasi yang bergantung pada pasar domestik pemerintah.

“Efisiensi anggaran ini dampaknya cukup terasa, hampir seperti mengulang situasi saat pandemi. Bali dan NTB termasuk yang paling terdampak,” ungkapnya.

Saat ini, tingkat okupansi hotel secara nasional berada di kisaran 25 hingga 30 persen dianggap cukup bagus.

Angka okupansi ini dinilai masih dalam batas wajar di tengah tekanan yang ada, namun jauh dari kondisi ideal.

Menghadapi situasi ini, pelaku industri perhotelan tidak hanya mengandalkan penyesuaian tarif kamar. Sebaliknya, mereka lebih fokus pada strategi manajemen yang adaptif dan kolaboratif.

IHGMA dalam Raker ini akan merumuskan program kerja 2026–2027 yang menitikberatkan pada penguatan kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait. Sinergi ini diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak pada industri pariwisata.

“Hotel memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi, mulai dari tenaga kerja hingga perputaran ekonomi daerah. Karena itu, dukungan pemerintah sangat kami harapkan,” tegasnya.

Selain itu, pelaku industri juga аktif menjalin komunikasi dengan jaringan internasional, termasuk GM hotel di kawasan ASEAN dan negara lain seperti Turki dan dan negara di kawasan Timur Tengah.

Perubahan pola perjalanan global menjadi perhatian penting, di mana wisatawan kini lebih fleksibel dalam menentukan destinasi.

“Wisatawan tetap akan traveling dalam kondisi geopolitik seperti sekarang. Mereka hanya mengubah rute dan pilihan destinasi. Ini yang harus kita baca sebagai peluang,” katanya.

Raker IHGMA juga menyoroti perubahan tren wisata yang didorong oleh generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha. Kelompok ini dinilai menjadi pasar potensial karena memiliki kecenderungan tinggi untuk bepergian dan mengeksplorasi destinasi baru.

“Mereka lebih memilih traveling daripada hal lain, bahkan menunda pernikahan. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan industri,” ujarnya.

Fenomena ini mulai terlihat pada periode libur sekolah, di mana tingkat hunian hotel mengalami peningkatan karena tren perjalanan keluarga yang dipengaruhi anak-anak generasi muda.

Di tengah tekanan industri, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) juga menjadi perhatian. Namun, pelaku industri menilai kondisi saat ini masih lebih terkendali dibandingkan masa pandemi.

“Kami belajar banyak dari Covid-19. Dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan pemerintah, kami optimistis bisa melewati kondisi ini tanpa dampak besar terhadap tenaga kerja,” jelasnya.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta Raker juga diajak mengunjungi sejumlah destinasi unggulan di NTB, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dan Bukit 360. Kegiatan ini bertujuan memperkuat promosi NTB sebagai destinasi eksotis dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

“NTB memiliki potensi luar biasa. Ini harus terus dipromosikan agar semakin dikenal dan diminati wisatawan,” pungkasnya.

Melalui forum ini, IHGMA menegaskan komitmennya untuk terus beradaptasi dan berinovasi menghadapi berbagai tantangan. Di tengah tekanan global dan domestik, industri perhotelan tetap melihat masa depan pariwisata Indonesia dengan optimisme, asalkan didukung strategi yang tepat dan kolaborasi yang kuat. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO