Selasa, April 28, 2026

BerandaHEADLINESPPG Dihentikan Sementara, Murid dan Guru di SD 29 Mataram Tak Terima...

SPPG Dihentikan Sementara, Murid dan Guru di SD 29 Mataram Tak Terima MBG Hampir Sebulan

 

Mataram (Suara NTB) – Murid dan guru di Sekolah Dasar (SD) 29 Mataram mengeluhkan pemberhentian distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolahnya. Sejak dapur yang memproduksi paket MBG ke SD 29 Mataram dihentikan sementara, murid dan guru selaku penerima manfaat di sana tak pernah lagi menyantap program Presiden Prabowo Subianto tersebut.


Kepala SDN 29 Mataram, Mujitahid mengatakan penghentian distribusi MBG ke sekolahnya sudah berlangsung hampir sebulan lamanya. Saat itu, ia mendapat pesan dari pengelola dapur bahwa proses distribusi ke sekolahnya akan dihentikan sementara lantaran SPPG yang bersangkutan belum memenuhi salah satu syarat operasional yakni IPAL.


“Kemarin waktu itu ada konfirmasi dari pihak dapur, kita dapat dari Dapur Rembiga 3 bahwa kita ini akan ada pemberhentian sementara katanya. Pemberhentian sementara karena ada masalah dengan IPAL di sana. Masalah IPAL. Itu tidak ada batas waktu, tidak ada batas waktu kapan, tidak ada kejelasan kapan akan aktif kembali,” ujarnya, kepada Suara NTB, Selasa (28/4/2026).


Mujitahid menyampaikan, siswa-siswinya banyak yang menanyakan alasan kenapa MBG dihentikan. Tak hanya peserta didik, guru dan orangtua juga mempertanyakan hal serupa.
“Banyak pertanyaan itu dari siswa, ya pasti, dari anak-anak, kemudian dari wali murid karena sudah terbiasa anak-anak ini mendapatkan apa namanya, makanan gratisnya dan dia terkadang jadi tidak membawa bekal dari rumah. Kemudian dari komite juga ada yang mempertanyakan hal ini. Kami hanya bisa menjawab seperti yang dijelaskan sama SPPG itu, karena masih ada masalah IPAL itu,” jelasnya.


Lantaran penghentian itu juga, siswa harus beradaptasi dengan skema lama, di mana orangtua harus menyiapkan bekal dari rumah dan membawa makan siang ke sekolah. Terlebih, SD dan SMP di Mataram saat ini menggunakan skema lima hari sekolah yang membuat waktu belajar semakin panjang.


“Kalau kemarin pas MBG mereka tidak repot bawa bekal dari rumah, termasuk teman-teman guru yang sampai sore itu juga kan memang ada jatah dari MBG juga. Nah, sekarang ya kembali mereka itu disibukkan dengan bekal dari rumah itu,” ungkapnya.


Ia berharap, SPPG yang selama ini memasok MBG ke sekolahnya dapat memenuhi persyaratan agar dapat beroperasi kembali. Sehingga, siswa dan guru selaku penerima manfaat bisa mendapatkan haknya.


“Kita berharap supaya jangan hak anak ini ikut kena imbas dari masalah yang ada di dapur gitu. Ini kan anak-anak ini seharusnya tetap mendapatkan haknya ini, tapi selama ini berarti tidak ada,” pungkasnya.


Keluhan yang sama datang dari Riki, siswa kelas IV SD 29 Mataram. Ia mengaku sedih setelah mobil pengangkut MBG tak datang lagi ke sekolahnya. “Sedih,” ujarnya pendek.


Setelah paket MBG tak lagi ia dapatkan, Riki lebih sering membawa uang saku dari rumah untuk kebutuhan selama di sekolah. Uang saku tersebut ia pakai untuk membeli makan siang.

Riki berharap, paket MBG dapat kembali diberikan sehingga ia tak lagi membawa uang saku ke sekolah. ‘Mau MBG ada lagi,” katanya.


Menanggapi isu ini, Kepala Satuan Tugas (Satgas) MBG NTB, Fathul Gani mendesak agar persyaratan yang belum dipenuhi oleh SPPG yang bersangkutan segera diselesaikan. Terutama terkait persoalan Sertifikat Laik Higienitas Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). “Kita berharap keseriusan para pengelola SPPG untuk memperbaiki manajemen dan tata kelola,” pungkasnya. (sib)

 

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO