Kota Bima (Suara NTB) – PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Cabang Bima, menghentikan kerja sama penjualan tiket melalui travel atau biro perjalanan mulai tahun 2026. Seluruh transaksi tiket kini dialihkan ke sistem daring, untuk menekan praktik percaloan dan memastikan masyarakat memperoleh tarif resmi.
Kepala PT. PELNI Cabang Bima, Budiarto, mengatakan kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan pelayanan sekaligus mendorong penggunaan layanan digital melalui aplikasi PELNI Mobile.
“Di tahun 2026 kita sudah tidak bekerja sama lagi dengan travel-travel yang ada di Bima. Jadi kita memang murni khusus penjualan online, dan penjualan online bisa diakses dimanapun oleh masyarakat sekitar NTB,” ujarnya, Selasa (28/4).
Menurutnya, penjualan tiket dengan sistem daring, masyarakat dapat mengetahui tarif secara langsung tanpa tambahan biaya dari pihak lain. Masyarakat akan mendapatkan tiket sesuai hak dan kewajiban pembayaran sesuai tarif resmi.
“Sehingga masyarakat benar-benar mendapatkan tiket sesuai haknya dan kewajiban pembayaran untuk tiket secara sesuai tarif yang ada di tiket, tanpa ada tambahan-tambahan,” katanya.
Selain pembelian tiket penumpang, layanan digital juga mencakup pemesanan layanan tambahan serta pengiriman barang dalam satu platform. Untuk mendukung kebijakan tersebut, PELNI Cabang Bima terus melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama bagi pengguna yang belum terbiasa dengan layanan digital.
“Kita tidak bosan-bosannya untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat di sekitar Bima khususnya mengenai PELNI Mobile,” ujarnya.
Petugas loket juga dilibatkan untuk membantu masyarakat memahami penggunaan aplikasi, mulai dari proses pengunduhan hingga pencarian tiket.
Di sisi lain, jumlah pengguna jasa PELNI di Cabang Bima tercatat meningkat dalam satu tahun terakhir, meski belum optimal akibat pengalihan sejumlah kapal saat arus mudik Lebaran.
“Memang kita alhamdulillah ada peningkatan terhadap jumlah penumpang, pengguna jasa kita memang ada peningkatan. Cuman ya walaupun karena memang kita belum bisa maksimal karena beberapa kapal kemarin pada saat arus mudik lebaran kita pakai untuk deviasi untuk wilayah Kalimantan,” tutupnya. (hir)

