Giri Menang (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) mengusulkan penanganan atau intervensi 3.500 lebih balita stunting ke Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Setwapres Pusat yang turun ke Lobar pada Selasa (5/5/2026). Pasalnya, Pemkab belum bisa intervensi program pemberian susu dalam penanganan 3.500 balita tersebut, akibat keterbatasan anggaran daerah.
Wabup Lobar, Hj. Nurul Adha yang dikonfirmasi media selepas mendampingi Bupati menerima TPPS Setwapres, menyebutkan dari dari 5.400 lebih balita stunting, belum semua bisa diintervensi dalam program pemberian susu. Dari jumlah itu baru diintervensi 1.522 anak, sedangkan sisanya 3.500 anak belum diintervensi.
“Tadi kami sampaikan (pada pertemuan dengan TPPS Setwapres), karena keterbatasan anggaran, kita hanya intervensi 1.522 anak. Sisanya belum. Kalau Pusat itu, memberikan tambahan anggaran maka itu bisa kita selesaikan (intervensi),” kata Wabup Una, sapaan Wabup Lobar.
Wabup mengatakan, semakin banyak anak bisa diintervensi penanganan susu maka kian banyak juga anak bisa dicegah dari stunting.
Pihaknya menyampaikan ke Tim TPPS Setwapres terkait komitmen kuatnya dalam penanganan stunting. Itu dibuktikan dengan penanganan stunting melalui intervensi program susu dari APBD. Sehingga tim TPPS Setwapres diharapkan juga mencakup Pemkab dalam penanganan stunting ini
Lebih lanjut dikatakan, dalam penanganan stunting tahun ini, pihaknya lebih fokus pada pencegahan melalui upaya kontrol, berat badan anak lahirnya kurang atau ada ibu hamil yang kondisi gizinya kurang rawan melahirkan anak berpotensi stunting. Kemudian anak-anak yang lahirnya normal tetapi perkembangannya tidak naik berat badannya. Misalnya ditimbang berturut-turut dua bulan berat badannya tidak maka berpotensi mengalami gizi kurang, gizi buruk dan kronis hingga stunting.
Dalam penanganan stunting tahun ini, Pemkab lebih fokus memperkuat validasi data sesuai arahan Bupati. Sehingga validasi itupun dilakukan melalui screening. Selain itu pihaknya di TP3S sudah membuat perencanaan penanganan stunting, yang sudah diintervensi dikelompokkan dalam satu kelompok.
Selanjutnya kelompok berikutnya bagi yang belum diintervensi. Selain itu, balita yang berpotensi menjadi stunting, jika dilihat dari data E-PPGM jumlahnya 500 anak yang lahir dengan berat badan rendah. Pihaknya juga menangani Balita yang belum mengalami stunting. (her)

