BerandaBUDAYA DAN HIBURANPerpustakaan Daerah NTB Gelar Bimtek Kepenulisan Konten Budaya Lokal

Perpustakaan Daerah NTB Gelar Bimtek Kepenulisan Konten Budaya Lokal

 


Mataram (Suara NTB) – Dalam upaya memperkuat literasi budaya sekaligus mendorong lahirnya generasi kreatif dan produktif, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Konten Budaya Lokal. Bimtek ini digelar selama dua hari, yaitu pada Rabu, 20 Mei 2026 untuk peserta SMA/sederajat dan 21 Mei 2026 untuk peserta umum.


Kegiatan yang dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB Dr. H. Ashari, SH., M.H., Rabu (20/5/2026) ini didukung melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bidang Perpustakaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Bimtek ini menghadirkan dua narasumber, As Rosyid (Ical- penulis, kintereatir, mentor kepenulisan) untuk kelas SMA dan umum Prof Dr. H Jamaludin. MA, Guru Besar Universitas Islam Negeri Mataram/Pemerhati Budaya.


Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB H. Ashari, menyampaikan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, budaya lokal menghadapi tantangan besar untuk tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.


“Budaya lokal tidak cukup hanya dikenang atau dipertontonkan, tetapi perlu ditulis, didokumentasikan, dan dipromosikan melalui berbagai konten kreatif. Karena itu, bimtek ini menjadi ruang belajar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan,” ujarnya.


NTB memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dari khazanah Sasak, Samawa, dan Mbojo, mulai dari bahasa daerah, tenun tradisional, cerita rakyat, kuliner khas, kesenian, hingga berbagai bentuk kearifan lokal yang menjadi identitas daerah. Potensi ini dinilai penting untuk terus diangkat melalui tulisan maupun media digital agar semakin dikenal secara luas.


Ashari juga juga menegaskan bahwa penguatan literasi di NTB perlu dipandang secara utuh. Data Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengukur minat, kebiasaan, dan akses masyarakat terhadap aktivitas membaca, mulai dari pra membaca, saat membaca, hingga pasca membaca. Berdasarkan data terbaru tahun 2025, NTB berhasil menempati peringkat kedua nasional dalam Tingkat Kegemaran Membaca.


Namun demikian, kondisi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemampuan literasi dasar masyarakat. Data angka buta aksara dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa NTB masih berada pada posisi ketiga nasional angka buta aksara tertinggi, dengan sekitar 8,93 persen penduduk usia 15 tahun ke atas belum mampu membaca dan menulis.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi di NTB masih menghadapi tantangan ketimpangan. Di satu sisi minat membaca meningkat sangat baik, namun di sisi lain masih ada pekerjaan rumah besar untuk menurunkan angka buta aksara. Karena itu, perpustakaan harus hadir sebagai solusi pembelajaran sepanjang hayat,” jelasnya.


Pada pelaksanaan 20 Mei 2026, peserta dari kalangan SMA/sederajat diarahkan untuk menumbuhkan kreativitas, keberanian menulis, serta kecintaan terhadap budaya daerah. Generasi muda juga didorong memanfaatkan media digital secara positif untuk menyebarluaskan nilai-nilai budaya lokal.


Kegiatan ini juga menjadi bagian dari transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang didorong oleh Perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan saat ini tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca, tetapi berkembang menjadi pusat belajar, berkarya, berinovasi, sekaligus ruang pelestarian budaya.


Melalui kegiatan ini diharapkan lahir berbagai karya tulis dan konten budaya lokal NTB yang berkualitas, sehingga budaya daerah semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional.


“Semoga dari kegiatan ini lahir penulis-penulis muda, kreator konten budaya, dan pegiat literasi yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya NTB kepada dunia sebagai bagian dari semangat ‘NTB Makmur Mendunia,” ujarnya.


Diakuinya, minat siswa SMA mengikuti kegiatan ini cukup besar. Hal ini dilihat jumlah calon peserta yang akan ikut, yakni lebih dari 150 orang. Namun, anggaran hanya untuk 26 siswa SMA dan peserta umum 34 orang. Pihaknya berharap alokasi anggaran, baik dari pusat dan daerah untuk meningkatkan literasi bisa ditingkatkan lagi. (ham)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO