Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) NTB mengimbau seluruh Kepala SMA/SMK/SLB di NTB mengecek bangunan sekolah masing-masing. Imbauan ini disampaikan setelah dua kelas milik SMAN 7 Mataram roboh secara tiba-tiba, pada Selasa (19/5/2026).
Kepala Disdikpora NTB, Syamsul Hadi, ditemui pada Selasa (19/5/2026), meminta seluruh Kepala SMA sederajat di NTB, mengecek bangunan dan kualitas infrastruktur sekolah masing-masing guna menghindari kejadian yang dialami SMAN 7 Mataram tidak terulang lagi.
“(Kepsek) SMA Provinsi untuk mengecek kondisi bangunan, antisipasi tidak terjadi lagi hal serupa,” ujarnya.
Kejadian yang menimpa SMAN 7 Mataram menjadi peringatan serius bagi pihak terkait untuk memastikan kondisi infrastruktur sekolah dalam keadaan aman dan tidak membahayakan warga sekolah.
Sebagai informasi, dua kelas dua ruang kelas milik SMAN 7 Mataram roboh, pada Selasa siang (19/5/2026), sekitar pukul 12.30 Wita. Peristiwa tersebut mengakibatkan lima siswa terdampak. Satu di antaranya terpaksa dirujuk ke rumah sakit akibat mengalami syok berat setelah sempat terjebak di dalam kelas saat bangunan ambruk.
Bangunan yang roboh diketahui merupakan ruang kelas XI A2 dan satu ruangan yang tidak digunakan. Kelas yang tidak dipakai itu lantaran kondisinya yang cukup memprihatinkan. Di sejumlah titik, plafonnya telah terkelupas.
Ditanya kenapa belum ada upaya perbaikan terhadap bangunan yang tergolong tua itu, Syamsul mengatakan, dua kelas itu merupakan bangunan yang dibangun pada 2006 silam atas pembiayaan komite sekolah.
“Seperti yang disampaikan Kepseknya dari laporannya bangunan ini dibangun 2006 atas pembiayaan dari komite pada waktu itu. Nah kebetulan hampir semua guru di sini pada saat itu belum ada di tempat ini. Kemungkinan panitia dan pengawas dan sebagainya adalah dari komite yang tidak tahu bagaimana polanya pada waktu itu 20 tahun yang lalu,” jelasnya.
Ia menyampaikan, satu dari dua ruang kelas yang roboh itu memang sudah lama dikosongkan sebagai bentuk antisipasi sekolah. Sementara, kelas yang dinilai masih aman tetap digunakan untuk proses belajar mengajar.
“Antisipasi itu dikosongkanlah kelas itu. Tapi kejadiannya memang di kelas yang tidak dicurigai,” terang Syamsul.
Diusulkan Dapat Revitalisasi
Sebagai tindak lanjut, Syamsul telah mengusulkan dua kelas tersebut mendapat perbaikan melalui program revitalisasi. Disdikpora NTB telah membangun komunikasi dengan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemendikdasmen agar SMAN 7 Mataram mendapat bantuan perbaikan.
Syamsul juga telah meminta pihak SMAN 7 Mataram untuk menyiapkan sejumlah persyaratan administratif sebagai syarat pengajuan. “Saya juga mencoba nanti berkomunikasi dengan pusat supaya ini jadi prioritas (revitalisasi),” tuturnya.
Selain itu, Syamsul juga telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk melakukan asesmen terhadap bangunan-bangunan lain di sekolah tersebut. “Sebenarnya dari sini tidak kelihatan, tapi kita untuk memitigasi risiko, PU segera melakukan asesmen terkait dengan bangunan ini. Itu yang dikhawatirkan jangan sampai terjadi lagi,” pungkasnya. (sib)

