BerandaNTBSUMBAWAPengurangan Sampah di Sumbawa Sangat Rendah

Pengurangan Sampah di Sumbawa Sangat Rendah

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa, mencatat hingga tahun 2026 upaya pengurungan sampah masih jauh dari target. Tercatat capaian penanganan baru 4,7 persen dari target yang ditetapkan di angka 30 persen dari target pemerintah pusat.

“Jadi di amanat Jasrada atau kebijakan dan strategi pengelolaan sampah rumah tangga/ sampah jenis lainnya sebesar 30 persen masih sangat jauh, karena kita baru merealisasikan 4,7 persen,” kata Kasi Kajian Dampak Lingkungan pada Dinas Lingkungan Kabupaten Sumbawa, Aryan Perdana Putra, kepada Suara NTB, Kamis (21/5).

Angka tersebut lanjut Aryan, tentu sangat jomplang dengan target yang ditetapkan pemerintah. Meski sangat jauh pemerintah tetap akan berupaya mengejar target yang ditetapkan di angka 30 persen. Ssalah satunya dengan melibatkan bank sampah dan para pelaku usaha non formal (pengepul).

“Masih 26 persen sekian yang harus kita capai sesuai amanat dalam Jasrada. Pola sosialisasi dan pembinaan lebih lanjut akan terus dilakukan ke masyarakat,” ucapnya.

Aryan menyebutkan, kendala utama dalam upaya pengurangan sampah yakni kebiasaan masyarakat serta kesadaran mereka. Karena untuk mendorong masyarakat melakukan upaya pengurangan sampah dari masing-masing rumah merupakan pekerjaan yang sangat berat dilakukan.

Strategi itu dilakukan dengan tujuan mendorong, agar seluruh elemen tersebut bergerak bersama untuk mendorong pengurangan sampah. Karena persoalan terbesar yang dihadapi selama ini merupakan sampah organik atau sampah sisa makanan yang menjadi penyumbang tertinggi.

“Sampah organik kita bisa mencapai 60 persen per hari dan itupun belum bisa kita tangani melainkan langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal kita bisa manfaatkan sebagai pupuk organik,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika 60 persen ini bisa dikelola ditempat oleh masing-masing keluarga yang memproduksi sampah. Maka upaya pengurangan sampah bisa tuntas, karena untuk sampah jenis lainnya bisa didaur ulang dan dijual kembali sebagai bentuk kerajinan tangan.

“Kalau masyarakat sudah bisa mengelola sampahnya sendiri, paling residu yang akan dibuang ke TPA hanya sekitar 10-13 persen dari total volume sampah yang dihasilkan per hari,” tambahnya.

Jika pola penanganan dilakukan secara komprehensif dan memiliki keberlanjutan, Ia meyakini usia TPA Raberas bisa lebih panjang dari kondisi saat ini. Salah satu strategi khusus yang dilakukan saat ini dengan pola sosialisasi, pembinaan, termasuk bekerjasama dengan Kader Posyandu dan PKK.

“Jika sampah sudah bisa terkelola dengan maksimal di masing-masing rumah tangga maka sudah tidak ada persoalan lagi terkait sampah. Sehingga TPA nantinya hanya sebagai penampung residu saja,” tukasnya. (ils)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO