BerandaPENDIDIKANOptimalisasi SMA Terbuka Tangani ATS di Lotim dan Loteng

Optimalisasi SMA Terbuka Tangani ATS di Lotim dan Loteng


Mataram (Suara NTB) – Kasus Anak Tidak Sekolah (ATS) menjadi persoalan yang terus membayang. Berdasarkan data dari Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) NTB, jumlah ATS di wilayah tersebut mencapai 70.690. Persoalan ini memerlukan penanganan serius. Salah satunya lewat program SMA terbuka.


SMA terbuka adalah program pendidikan menengah yang menawarkan sistem belajar jarak jauh dan mandiri untuk siswa yang memiliki kendala waktu, ekonomi, atau geografis sehingga tidak dapat mengikuti pendidikan formal reguler. Program ini menginduk pada SMA Negeri konvensional (sekolah induk) dan memberikan ijazah yang setara dengan SMA biasa.

Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) wilayah II (Lotim-Loteng), Supriadi mengatakan, pihaknya mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk membuka SMA terbuka. Dengan adanya SMA terbuka, anak-anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan lantaran faktor ekonomi, akses, atau waktu yang memadai dapat melanjutkan pendidikannya.


“Nah, (SMA Terbuka) itu yang menjadi wadah bagi anak-anak kita ini untuk bisa melanjutkan studinya di luar sekolah yang ada, yang mana artinya formal, formal dalam artian, apa, tatap muka memang rutin. Tapi kalau Terbuka ini kan pertemuannya bisa disesuaikan, bisa diatur bersama guru dan siswa,” ujarnya.

Keberadaan SMA Terbuka sendiri dinilai penting untuk mengatasi persoalan ATS. Terutama mereka yang akses ke sekolah sangat jauh. Berbeda dengan sekolah formal yang terikat waktu dan tempat, SMA terbuka lebih fleksibel dan kondisional.


Guru akan bermufakat dengan siswa untuk menentukan kapan dan dimana lokasi pembelajaran. Dengan demikian, siswa yang secara ekonomi dan jarak tempuh ke sekolah terbatas tetap dapat mengikuti pembelajaran.

“Kalau SMA Terbuka ini kan disesuaikan dengan kondisi siswanya. Nah, bisa saja dia diatur waktunya sesuai dengan waktu yang bisa bagi siswa-siswinya,” jelas Supriadi.

Ia menyebut saat ini, jumlah SMA di Lotim yang berstatus terbuka diperkirakan baru dua sekolah. Sementara, di Loteng baru sekitar dua sampai tiga sekolah. Meskipun bisa dihitung jari, keberadaan SMA Terbuka tersebut sudah memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat setempat, khususnya masyarakat yang berada di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3 T).

Ke depan, pihaknya akan terus memetakan titik dimana kantong ATS cukup tinggi untuk ditawarkan mengikuti pembelajaran melalui program SMA Terbuka.


“Tapi walaupun tidak, tidak semuanya, tapi sudah ada, sudah cukup banyak. Karena itu kita melihat dari jumlah mana tempat-tempat yang memang ee… jumlah ATS-nya itu tinggi, itu yang dilakukan,” pungkasnya. (sib)

 

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO